Tuesday, December 31, 2013

Airmata ini

Aku lupa.
Bagaimana rasanya tersenyum.
Bagaimana rasanya tertawa.
Bagaimana rasanya gembira.

Aku terlalu lupa.
Karna yang ku ingat, hanyalah cara menangis.
Meneteskan setiap butir airmata.
Menahan pedihnya rasa didada.

Aku terlalu lupa.
Sungguh aku lupa.
Tak ada yang bisa ku ingat.
Kecuali, membendung setiap tangis yang meremas luka dihati.

Orang mungkin sering melihatku tampil kuat dengan setiap senyuman.
Orang mungkin sering melihatku hebat dengan gelak tawa.
Orang mungkin sering melihatku bangga dengan kegembiraan.

Tapi itu hanya topeng belaka.
Sunggu aku bukanlah orang yang seperti mereka lihat.

Aku sungguh terlalu lemah.
Kadang airmata dan harapan menjadi teman paling setia.
Aku terlalu lemah.
Dan begitu banyak keluhan.

Kadang, aku tak bisa bangkit.
Namun Allah selalu menjadi tempat curahanku.
Ya. Saat yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing.

Saat malam yang larut menemani.
Aku berbaring ditempat tidur mini yang empuk dan berpeluk pada bantal mungil yang menjadi saksi tiap tetes mata yang setiap malam membasahi.

Hati mulai merintih.
Tak ada rasa bahagia yang membekas kecuali setiap tangis yang ku ingat.

Rintihku hanya "Aku tak bisa menaruh harapan pada setiap manusia kecuali Allah. Yang tak pernah memberiku harapan palsu, yang menyakitiku dan menekangku".

Aku selalu berusaha untuk tidak tidur dengan airmata lagi.
Namun hasilnya, tak ada setiap malam yang ku lewati tanpa tangis.

Sunday, December 22, 2013

Ketakutanku

Setiap kali detak jantung berdegup, kadang ada pemikiran yang sekejap terlintas yang membuatku meneteskan airmata dengan sangat deras sehingga membasahi pipiku.
Takut. Gemetar dan mengguncang.
Apa ini?
Apa yang terjadi?
Tiba-tiba aku menangis dan membayangkan bagaimana seramnya ketika aku hidup sendirian. Ditempat sempit nan gelap. Dan tanpa oksigen.
Ya. Pikiranku tertuju pada "Kematian".
Aku tahu. Kematian pasti akan datang menghampiri setiap insan.
Siap atau tidak siap semua akan mengalami yang namanya "Kematian".
Ketakutan pasti ada.
Namun bukan mati yang harus ditakutkan. Melainkan perjalanan setelah itu.
Cukupkah bekalku?
Mungkin rajinnya kita beribadah bukan jaminan kita langsung masuk ke dalam Jannah-Nya.
Mungkin saja, selama ini kita rajin dalam beribadah namun amalan kita bagaikan kapas yang ditimbang namun tanpa berat sebab ditiup angin.
Mungkin banyak yang bertanya kenapa demikian?
Alasannya mungkin karna ibadah kita semata-mata bukan karna Allah melainkan ingin mendapat simpati dari manusia lainnya.
Nauzubillah.
Selain itu begitu banyak hal yang ku takutkan.
Jika malam ini, hari ini dan detik ini aku tidur. Dan besok tak diizinkan lagi untuk memperbaiki diri, betapa celakanya aku yang selama diberi kesempatan sering lalai untuk mengunakanya. Celakanya aku yang hanya memanfaatkan waktu luang dengan kemaksiatan. Berjalan dengan bangganya diatas jalan yang nyatanya menyesatkan.
Mungkin aku masih muda. Namun muda bukan berarti waktuku panjang. Dan taubat akan ku hampiri saat diriku tua kelak.
Tak ada kata mati diusia tua saja.
Muda pun bisa. Entah mati dengan alasan sakit, kecelakaan atau bencana.
Betapa aku menyadari. Mati itu takdir dan penyebab hanyalah sebuah alasan belaka.
Aku sungguh heran diselimuti ketakutan. Kadang merasa bangga untuk berbuat dosa dan menyesal setelah ujian menyapa. Beginikah manusia? Yang hanya mengingat Tuhan-nya saat duka menyelimuti dirinya sedang ketika kesenangan menyelimuti, manusia malah lupa jika semua ini atas campur tangan Tuhan-nya. Ya Allah maafkan aku, yang selalu bertingkah munafik didepan-Mu. Bersandiwara seakan-akan aku lupa bahwa Kau senantiasa merekam semua aktivitasku. Astaghfirullah~
Aku sadar.
Mungkin malam ini, aku sedang tertawa dengan dikelilingi orang-orang disekitarku. Namun siapa sangkah? Ternyata keesokkan harinya aku tengah dikelilingi oleh orang-orang yang sedang menangisi jenazahku.
Laa Hawla Wa Laa Quata Illah billah.

Friday, December 6, 2013

The true love

Bukan indah namanya jika selepas hujan tidak ada pelangi.

Bukan manis namanya jika si bulan tidak ditemani bintangnya.

Bukan rasa namanya jika selepas duka tak ada senyuman.

Dan bukan cinta namanya jika aku dan kamu tidak bersama cinta-Nya.

Sungguh;
Semuanya telah Allah tetapkan masing masing pasanganya. Jadi kita tidak perlu kawatir lagi untuk tidak kebagian pasangan dan memilih alasan pacaran sebagai jalan memilih pasangan.

Jangan tergiur  dengan gemerlapnya cinta yang haram.
Sungguh penyesalan datang pada saat diri kita hancur karena padamnya gemerlap cinta yang mendusta. Yaitu yang haram. Maka dari itu sediakanlah payung sebelum hujan.

Halalkan cintamu.

Sungguh;
Cinta yang Halal itu indah, diridhai-Nya dan Syurga sebagai tempat yang dijanjikan untuk kita.

Dan sungguh;
Cinta yang seindah-indahnya adalah saat cinta kita karena Allah. Saat cinta kita untuk mendekatkan diri kita pada Allah. Dan saat cinta kita demi meraih ridha Allah.

Maka dari itu;
Pantaskan diri. Halalkan cinta. Berpegang tangan dan melangkah bersama meraih ridha dan syurga-Nya.

Semoga istiqomah.

By; Lutfiah Al-Mubarak

Friday, November 22, 2013

Tak Mau Berjilbab, Alasan dan Jawaban

Seorang muslimah, diperintahkan untuk menutup auratnya ketika keluar rumah, yaitu dengan mengenakan pakaian syari yang dikenal dengan jilbab atau hijab. Namun dalam kenyataan masih banyak di antara para muslimah yang belum mau memakainya. Ada yang dilarang oleh orang tuanya, ada yang beralasan belum waktunya atau nanti setelah pergi haji dan segudang alasan yang lain. Nah apa jawaban untuk mereka?

1. Saya Belum Bisa Menerima Hijab

Untuk ukhti yang belum bisa menerima hijab maka perlu kita tanyakan, "Bukankah ukhti sungguh-sungguh dan yakin dalam memeluk Islam, dan bukankah ukhti telah mengucapkan la ilaha illallah Muhammad rasulullah dengan yakin? Yang berarti menerima apa saja yang diperintahkan Allah Subhannahu wa Taala dan Rasulullah? Jika ya maka sesungguhnya hijab adalah salah satu syariat Islam yang harus dilaksanakan oleh para muslimah. Allah Subhannahu wa Taala telah memerintah kan para mukminah untuk memakai hijab dan demikian pula Rassulullah Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan itu. Jika anda beriman kepada Allah Subhannahu wa Taala dan Rasul-Nya, maka anda tentu akan dengan senang hati memakai hijab itu.

2. Saya Menerima Hijab, Namun Orang Tua Melarang.

Kalau saya tidak taat kepada orang tua, saya bisa masuk neraka. Kepada saudariku kita beritahukan bahwa memang benar orang tua memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia, dan kita diperintahkan untuk berbakti kepada mereka. Namun taat kepada orang tua dibolehkan dalam hal yang tidak mengandung maksiat kepada Allah Subhannahu wa Taala , sebagaimana dalam firman-Nya, artinya,

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya," (QS. Luqman:15)

Meskipun demikian kita tetap harus berbuat baik kepada kedua orang tua kita selama di dunia ini.

Inti permasalahannya adalah, bagaimana saudari taat kepada orang tua namun bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Taala dan Rasul-Nya, padahal Allah Subhannahu wa Taala adalah yang menciptakan anda, memberi nikmat, rizki, menghidupkan dan juga yang menciptakan kedua orang tua saudari?

3. Saya Tidak Punya Uang untuk Membeli Jilbab

Ada dua kemungkinan wanita muslimah yang mengucapkan seperti ini, yaitu mungkin dia berdusta dan mungkin juga dia jujur. Jika dalam kesehariannya dia mampu membeli berbagai macam pakaian dengan model yang beraneka ragam, mampu membeli perlengkapan ini dan itu, maka berarti dia telah bohong. Dia sebenarnya memang tidak berniat untuk membeli pakaian yang sesuai tuntunan syariat. Padahal pakaian syar'i biasanya tidak semahal pakaian-pakaian model baru yang bertabarruj.

Maka apakah saudari tidak memilih pakaian yang seharusnya dikenakan oleh seorang wanita muslimah. Apakah anda tidak memilih sesuatu yang dapat menyelamatkan anda dari adzab Allah Subhannahu wa Taala dan kemurkaan-Nya? Ketahuilah pula bahwa kemuliaan seseorang bukan pada model pakaiannya, namun pada takwanya kepada Allah Subhannahu wa Taala . Dia telah berfirman, artinya,

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu." (QS. al-Hujurat:13)

Adapun jika memang anda seorang yang jujur, jika benar-benar saudari berniat untuk memakai jilbab maka Allah Subhannahu wa Taala akan memberikan jalan keluar. Allah Subhannahu wa Taala telah mengatakan, artinya,

"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. ath-Thalaq 2-3)

Kesimpulannya adalah bahwa untuk mencapai keridhaan Allah dan untuk mendapatkan surga, maka segala sesuatu akan menjadi terasa ringan dan mudah.

4. Cuaca Sangat Panas

Jika saudari beralasan bahwa cuaca sangat panas, kalau memakai jilbab rasanya gerah, maka saudari hendaklah selalu mengingat firman Allah Subhannahu wa Taala, artinya,

"Katakanlah, Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui." (QS. 9:81)

Apakah anda menginginkan sesuatu yang lebih panas lagi daripada panasnya dunia ini, dan bagaimana saudari menyejajarkan antara panasnya dunia dengan panasnya neraka? Yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Taala , artinya,

"Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah." (QS. 78:24-25)

Wahai saudariku, ketahuilah bahwa surga itu diliputi dengan berbagai kesusahan dan segala hal yang dibenci nafsu, sedangkan neraka dihiasi dengan segala yang disenangi hawa nafsu.

5. Khawatir Nanti Aku Lepas Jilbab Lagi

Ada seorang muslimah yang mengatakan, "Kalau aku pakai jilbab, aku khawatir nanti suatu saat melepasnya lagi." Saudariku, kalau seseorang berpikiran seperti anda, maka bisa-bisa dia meninggalkan seluruh atau sebagian ajaran agama ini. Bisa-bisa dia tidak mau shalat, tidak mau berpuasa karena khawatir nanti tidak bisa terus melakukannya.

Itu semua tidak lain merupakan godaan dan bisikan setan, maka hendaklah suadari mencari sebab-sebab yang dapat menjadikan anda selalu beristiqamah. Di antaranya dengan banyak berdoa agar diberikan ketetapan hati di atas agama, bersabar dan melakukan shalat dengan khusyu. Allah Subhannahu wa Taala berfirman, artinya,

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu." (QS. 2:45)

Jika saudari telah memegang teguh sebab-sebab hidayah dan telah merasakan manisnya iman maka saudari pasti tidak akan meninggalkan perintah Allah Subhannahu wa Taala , karena dengan melaksanakan itu anda akan merasa tentram dan nikmat.

6. Aku Takut Tidak Ada Yang Menikahiku

Saudariku! Sesungguhnya laki-laki yang mencari istri seorang wanita yang bertabarruj, membuka aurat dan senang melakukan berbagai kemaksiatan maka dia adalah laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu. Dia tidak cemburu terhadap yang diharamkan Allah Subhannahu wa Taala, tidak cemburu terhadapmu, dan tidak akan membantumu dalam ketaatan, menuju surga serta menyelamatkanmu dari neraka.

Jadilah engkau wanita yang baik, insya Allah Subhannahu wa Taala engkau mendapatkan suami yang baik pula. Engkau lihat berapa banyak wanita yang tidak berhijab, namun dia tidak menikah, dan engkau lihat berapa banyak wanita berjilbab yang telah menjadi seorang istri.

7. Kita Harus Bersyukur

"Oleh karena kecantikan merupakan nikmat dari Allah Subhannahu wa Taala, maka kita harus bersyukur kepada-Nya, dengan memperlihatkan keindahan tubuh, rambut dan kecantikan kita." Mungkin ada di antara muslimah yang beralasan demikian.

Suadariku! Itu bukanlah bersyukur, karena bersyukur kepada Allah Subhannahu wa Taala bukan dengan cara melakukan kemaksiatan. Allah Subhannahu wa Taala berfirman,

"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka." (QS. an-Nur:31)

Dalam firman-Nya yang lain, "Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mumin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." (QS.al-Ahzab:59)

Nikmat terbesar yang Allah Subhannahu wa Taala berikan kepada kita adalah iman dan Islam, jika anda ingin bersyukur kepada Allah maka perlihatkanlah kesyukuran itu dengan sesuatu yang disenangi dan diperintahkan Allah Subhannahu wa Taala, di antaranya adalah dengan mememakai hijab atau jilbab. Inilah syukur yang sebenarnya.

8. Belum Mendapatkan Hidayah

Ada sebagian muslimah yang mengatakan, "Saya tahu bahwa jilbab itu wajib, namun saya belum mendapatkan hidayah untuk memakainya." Kepada saudariku yang yang beralasan demikian kami katakan, "Bahwa hidayah itu ada sebabnya sebagaimana sakit itu akan sembuh dengan sebab pula. Orang akan kenyang juga dengan sebab, yakni makan. Kalau anda setiap hari meminta kepada Allah agar ditunjukkan ke jalan yang lurus, maka anda harus berusaha meraihnya. Di antaranya, hendaklah anda bergaul dengan wanita yang baik-baik, ini merupakan sarana yang sangat efektif, sehingga hidayah dapat anda raih dan terus-menerus terlimpah kepada ukhti."

9. Aku Takut Dikira Golongan Sesat

Ketahuilah saudariku! Bahwa dalam hidup ini hanya ada dua kelompok, hizbullah (kelompok Allah) dan hizbusy syaithan (kelompok syetan). Golongan Allah adalah mereka yang senantiasa menolong agama Allah Subhannahu wa Taala, melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Sedangkan golongan setan sebaliknya selalu bermaksiat kepada Allah dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan ketika ukhti melakukan ketaatan, salah satunya adalah memakai hijab maka berarti ukhti telah menjadi golongan Allah, bukan kelompok sesat.

Sebaliknya mereka yang mengumbar aurat, bertabarruj, berpakaian mini dan yang semisal itu, merekalah yang sesat. Mereka telah terbius godaan syetan atau menjadi pengekor orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Maka berbahagialah anda sebagai kelompok Allah Subhannahu wa Taala yang pasti menang.

Jilbab atau hijab adalah bentuk ibadah yang mulia, jangan sejajarkan itu dengan ocehan manusia rendahan. Dia disyariatkan oleh Penciptamu, kalau engkau taat kepada manusia dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Taala maka sungguh engkau akan binasa dan merugi. Mengapa engkau mau diperbudak oleh mereka dan meninggalkan ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Taala Yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikanmu?

Sumber: Buletin Darul Qasim, " Wa man Yamnauki minal hijab", Dr Huwaidan Ismail

Friday, November 15, 2013

Manfaat Ingat Mati

Apa manfaat ingat mati atau mengingat kematian?
Berikut beberapa faedah atau manfaatnya yang sengaja penulis sarikan dari penjelasan ulama sebagai nasehat untuk kita semua.

1- Mengingat kematian adalah termasuk ibadah tersendiri, dengan mengingatnya saja seseorang telah mendapatkan ganjaran karena inilah yang diperintahkan oleh suri tauladan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2- Mengingat kematian membantu kita dalam khusyu’ dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها وإياك وكلَّ أمرٍ يعتذرُ منه

Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

3- Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena barangsiapa mengetahui bahwa ia akan menjadi mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya didunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban.

4- Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).

5- Mengingat kematian membuat kita tidak berlaku zholim. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ

Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al Muthoffifin: 4). Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zholim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zholim seperti itu.

Imam Qurthubi menyebutkan dalam At Tadzkiroh mengenai perkataan Ad Daqoq mengenai keutamaan seseorang yang banyak mengingat mati:

1- menyegerakan taubat

2- hati yang qona’ah (selalu merasa cukup) 

3- semangat dalam ibadah

Sedangkan kebalikannya adalah orang yang melupakan kematian, maka ia terkena hukuman:

1- menunda-nunda taubat

2- tidak mau ridho dan merasa cukup terhadap apa yang Allah beri

3-  bermalas-malasan dalam ibadah.

Semoga Allah menghindarkan kita dari penyakit cinta dunia dan takut mati.

Referensi:
Ahkamul Janaiz Fiqhu Tajhizul Mayyit, Kholid Hannuw, terbitan Dar Al ‘Alamiyah, cetakan pertama, 1432 H, hal. 9-13.
Artikel Muslim.Or.Id

Monday, October 14, 2013

Karena Setiap Kita Akan Diuji


Saudaraku, dalam menapaki kehidupan dunia yang fana ini, kita senantiasa dihadapkan pada dua keadaan, bahagia atau sengsara. Perubahan keadaan itu bisa terjadi kapan saja sesuai dengan takdir Allah Ta’ala. Sementara semenjak diciptakan, tabiat dasar manusia memang tidak pernah merasa puas. Apabila diberi kesenangan, manusia lalai dan tak menentu. Sebaliknya jika diberi kesulitan, ia akan bersedih dan gundah gulana tak karuan. Padahal sejatinya bagi seorang mukmin, segala yang terjadi pada dirinya, seharusnya tetap menjadi kebaikan bagi dirinya. Begitulah keistimewaan seorang mukmin sejati. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah sabda yang diucapkan oleh pemimpin dan suri tauladan bagi orang-orang yang bertakwa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan  keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila dia mengalami kebaikan, dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa keburukan, maka dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no.2999, dari sahabat Shuhaib)
Benarlah, bahwasanya hanya orang yang beriman yang bisa lurus dalam menyikapi silih bergantinya situasi dan kondisi. Hal ini karena ia meyakini keagungan dan kekuasaan Allah Ta’ala serta tahu akan kelemahan dirinya. Tidak dipungkiri memang, musibah dan bencana akan selalu menyisakan kesedihan dan kepedihan. Betapa tidak, orang yang dicinta kini telah tiada, harta benda musnah tak bersisa, berbagai agenda tertunda, bahkan segenap waktu dan perasaan tercurah untuk memikirkannya.

Hakikat Musibah
Musibah adalah perkara yang tidak disukai yang menimpa manusia. Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan: “Musibah adalah segala apa yang mengganggu seorang mukmin dan yang menimpanya.” (Al-Jami’li Ahkamil Qur’an, 2/175)
تُرْجَعُونَ وَإِلَيْنَا فِتْنَةً وَالْخَيْرِ بِالشَّرِّ وَنَبْلُوكُمْ الْمَوْتِ ذَائِقَةُ نَفْسٍ كُلُّ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)
Dunia ini adalah medan perjuangan seorang mukmin untuk menjadi sebaik-baik hamba. Allah Ta’ala berfirman :
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2)

Pentingnya Istirja’ Ketika Datang Musibah
Istirja’ adalah ucapan إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُونَ yang artinya “Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”
Shahabiyah Ummu Salamah radhiyallahu’anha menyebutkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
:مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ
اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا خْلَفَ وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلاَّ أَ مُصِيْبَتِي إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي
“Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah (yaitu): ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, wahai Allah, berilah aku pahala pada (musibah) yang menimpaku dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya’; kecuali Allah memberikan kepadanya yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no.918)

Kalimat istirja’ adalah obat termanjur bagi mereka yang tertimpa musibah dan paling berguna bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat karena ia mengandung dua pondasi dasar yang apabila seorang hamba merealisasikan dengan mengetahui dua pondasi tersebut, insya Allah dirinya terhibur dari musibah tersebut.
Pondasi pertama adalah hendaknya seorang hamba itu mengakui bahwa dirinya, keluarganya, harta dan anaknya pada hakikatnya adalah milik Allah Ta’ala. Dia hanya menitipkannya pada seorang hamba. Apabila Dia mengambilnya, ibarat pemilik barang mengambil barangnya yang dipinjam orang lain
Pondasi kedua adalah bahwasanya tempat kembali dan akhir perjalanan seorang hamba adalah kepada “Pemilik” yang sesungguhnya. Suatu masa, ia harus meninggalkan dunia ini di belakang punggungnya, dan datang mengharap Rabbnya di hari akhir nanti seorang diri, sebagaimana Allah Ta’ala menciptakannya pertama kali, tanpa keluarga, harta, teman.  Seseorang tidak akan membawa apapun kecuali amal kebaikan dan keburukan di akhirat nanti. Karena itu, dengan mengetahui dan menyadari keadaan seorang hamba di awal penciptaan dan di akhir kehidupan dunia, bagaimana mungkin ia akan akan bergembira atau bersedih karena berpisah dengan sesuatu yang sejatinya bukan miliknya?

Penawar Kesedihan

Sebagian orang beranggapan bahwa orang yang ditimpa musibah seperti sakit dan semisalnya adalah orang yang dimurkai Allah Ta’ala, padahal tidaklah demikian kenyataannya. Terkadang seseorang diuji dengan penyakit dan musibah padahal ia seorang yang mulia di sisi-Nya seperti para nabi, rasul dan orang shalih. Musibah yang menimpa mereka tidak lain adalah untuk mengangkat kedudukan mereka dan dibesarkannya pahala serta sebagai contoh kesabaran bagi orang yang datang setelah mereka.
Terkadang seorang diuji dengan kesenangan seperti harta yang banyak, anak-anak, istri dan lainnya, akan tetapi tidak sepantasnya dikatakan orang yang dicintai Allah Ta’ala jika tidak melakukan ketaatan kepada-Nya atau justru terlena karenanya. Orang yang mendapat berbagai kenikmatan bisa jadi memang termasuk orang yang dicintai Allah Ta’ala atau bahkan sebaliknya.
Seorang mukmin hendaknya yakin bahwa apa yang ditakdirkan Allah Ta’ala niscaya akan menimpanya dan tidak meleset sedikitpun. Sedangkan apa yang tidak ditakdirkan oleh-Nya pasti tidak akan menimpanya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikan itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”(Al Hadid: 22-23)
Ingatlah Saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.”(HR. Tirmidzi, shahih)

Ada Faedah di Balik Musibah

Saudaraku, sesungguhnya musibah yang menimpa, tak lain adalah sarana penggugur dosa seorang hamba, seperti yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Ujian akan terus datang kepada seorang mukmin atau mukminah mengenai jasadnya, hartanya, dan anaknya sehingga ia menghadap Allah tanpa membawa dosa.” (HR. Ahmad, hasan shahih)
Allah Maha Bijaksana, tiada keputusan dan ketentuan-Nya yang lepas dari hikmah. Tak terkecuali dengan perkara musibah ini. Kalaulah seandainya tidak ada faedah dari musibah ini kecuali sebagai penghapus dosa dimana itu saja sudah mencukupi, apatah lagi jika di sana ada setumpuk faedah? Subhanallah!
Terakhir, mari kita perhatikan nasihat Ibnu Qayyim rahimahullah berikut ; “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali.red). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lamu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qadir Jawaz)
Artikel Muslimah.Or.Id

Ciri-ciri Orang Munafik


https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTySlOD4_ys8na_P1S6pube_sPkXchX_sh9RGS68zRnqcFK-rfpFADalam kehidupan sehari-hari tentu kita pernah mendengar kata “munafik” yang diucapkan orang. Kata munafik ini ditujukan pada mereka yang telah melakukan hal yang buruk. Namun, tidak semua orang bisa disebut sebagai orang yang munafik. Belakangan ini banyak yang memakai kata munafik, namun dalam penempatan yang salah. Pengetahuan yang kurang sering menyebabkan kesalahan tersebut. Karenanya, kenalilah ciri-ciri orang munafik berikut ini:

  1. Berdusta atau bohong Orang munafik adalah orang yang selalu berkata dusta atau bohong pada orang lain. Perkataannya tidak bisa dipercaya karena semua yang dikatakannya berbeda dari kenyataan. Mereka yang suka berbohong demi keuntungan sendiri adalah orang munafik. 
  2. Suka ingkar janji Orang yang munafik adalah orang yang suka ingkar janji. Apabila ada orang yang berjanji namun tidak menepati janjinya, itu adalah tanda kalau dia munafik. Terlebih lagi jika ingkar janji itu dilakukannya setiap kali dia berjanji. Jangan sampai terjebak dengan orang seperti ini karena hanya akan buat kecewa. 
  3. Bersumpah palsu Ciri orang munafik adalah suka bersumpah palsu. Orang munafik biasanya akan bersumpah palsu untuk menutupi kesalahan yang pernah mereka perbuat. Sumpah palsu ini berasal dari kebiasaan bohongnya. Jika tidak ingin jadi orang munafik, maka jangan pernah berani berbohong. 
  4. Menyebar berita bohong Ciri orang munafik adalah suka menyebar berita bohong untuk membuat kehebohan. Biasanya orang munafik sangat suka membesar-besarkan kesalahan orang lain tapi menutupi kesalahannya. Saat orang lain melakukan kesalahan, dia langsung menyebarkannya hingga menjadi berita heboh. 
  5. Senang di atas penderitaan orang lain Ciri orang munafik adalah senang melihat orang susah, susah bila melihat orang lain senang. Orang munafik akan terlihat sedih saat melihat orang lain susah, tapi dalam hatinya dia tertawa. Sifat ini biasanya erat dengan sifat iri hati. Jika tidak ingin jadi munafik, buanglah sifat iri hati itu. 
  6. Melakukan korupsi Ciri orang yang munafik adalah berkhianat. Salah satu perbuatan yang khianat adalah melakukan tindak pidana korupsi. Menggelapkan uang rakyat untuk kepentingan sendiri adalah salah satu contoh nyata dari pengkhianatan terhadap orang banyak. Kepercayaan rakyat dibalas dengan penghianatan. Munafik! 
 Itulah beberapa ciri-ciri dari orang munafik secara umum. Jika kamu melihat orang dengan ciri tersebut, sebaiknya berhati-hatilah. Karena berdekatan dengan orang munafik bisa menimbulkan fitnah dan juga hal yang negatif untuk kamu.

"Ya Allah, jauhkanlah hamba dari sifat-sifat orang munafik". Aamiin

Sumber: http://ciricara.com/2012/09/03/ciricara-ciri-ciri-orang-munafik/

Wednesday, September 11, 2013

AYAT AYAT ANTI GALAU


♥ Jangan Galau, Innallaha Ma’ana!
♥ “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami” (QS. At Taubah: 40) ♥

♥ ber-Sabarlah
♥ “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).

♥Adukanlah semua itu kepada Allah,
♥ “Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5). ♥

♥ Positive thinking
♥ “Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6). ♥

♥ Dzikrullah (Mengingat Allah)
♥ “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28) ♥

so, take it easy….!!!

Wanita itu lemah? siapa yang bilang?




Wanita itu lemah? siapa yang bilang?
tahukah kamu…
Orang pertama yang beriman atas kerasulan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah wanita, yaitu  khadijah RA.

darah pertama yang tumpah (syahid) fii sabilillah adalah darah wanita, yaitu Sumayyah binti Khayyath

Salah satu ilmuan terhebat dalam Islam adalah wanita, Aisyah RA
Orang yang membuat pengorbanan terbesar dalam satu hari untuk Islam adalah seorang wanita- Khansaa (RA)

Salah satu pejuang terbesar dalam sejarah Islam adalah seorang wanita-khawla bintI al-aswar (RA)

Jadi, jangan pernah membiarkan seseorang pria mengatakan kepada kamu bahwa wanita itu lemah, terbatas atau tertindas dalam Islam!

Tuesday, August 20, 2013

Macam-macam surga dan penghuninya

Surga Firdaus

Surga Firdaus ini diciptakan oleh Allah Swt. dari emas. Tentang calon penghuninya, dijelaskan dalam surat Al-Mukminuun berikut ini.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Mukminuun [23]: 1-11)

Surga ‘Adn

Surga ‘Adn ini diciptakan oleh Allah Swt. dari intan putih. Calon penghuni Surga ‘Adn antara lain:

1. Orang yang bertakwa kepada Allah Swt.
“(Yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), ‘Salaamun`alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.’” (Q.S. An-Nahl [16]: 31-32)

2. Orang yang benar-benar beriman dan beramal saleh.
“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia). (Yaitu) surga Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (Q.S. Thaahaa [2]: 75-76)

3. Orang yang banyak berbuat baik.
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Bagi mereka) surga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.” (Q.S. Fathir [35]:32-33)

4. Orang yang sabar, menginfakkan hartanya dan membalas kejahatan dengan kebaikan.
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” (Q.S. Ar Ra’d [13]: 22-23)

Surga Na’im

Surga Na’im diciptakan oleh Allah Swt. dari perak putih. Calon penghuninya adalah orang-orang yang benar-benar bertakwa dan beramal saleh. Sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini.

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 34)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan” (Q.S. Luqman [31]: 8)

“Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 56)

Surga Ma’wa

Surga Ma’wa diciptakan oleh Allah Swt dari zamrud hijau. Calon penghuninya adalah:

1. Orang-orang yang benar-benar beriman dan beramal saleh.
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. As-Sajdah [32]: 19)

2. Orang-orang yang takut pada kebesaran Allah Swt. dan menahan diri dari hawa nafsu buruk.
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surga tempat tinggal(nya).” (Q.S. An-Naazi‘aat [79]: 40-41)

Surga Darussalam

Surga Darussalam diciptakan oleh Allah Swt dari yakut merah. Calon penghuninya adalah orang-orang yang kuat iman dan Islamnya, mengamalkannya ayat-ayat Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, serta mengerjakan amal saleh lainnya karena Allah Swt. Firman-Nya,

“Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’aam [6]: 127)

Surga Darul Muqamah

Surga Darul Muqamah diciptakan oleh Allah Swt. dari permata putih. Calon penghuninya adalah orang-orang yang melakukan banyak kebaikan. Firman-Nya,

“Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.’” (Q.S. Faathir [35]: 34-35)

Surga Al-Maqaamul

Surga Al-Maqaamul adalah surga yang diciptakan oleh Allah Swt. dari emas. Calon penghuninya adalah orang-orang yang sangat beriman (muttaqien), yaitu yang benar-benar bertakwa kepada Allah Swt. sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman.” (Q.S. Ad-Dukhan [44]: 51)

Surga Khuldi

Surga Khuldi adalah surga yang diciptakan oleh Allah Swt. dari marjan merah dan kuning. Calon penghuninya adalah orang-orang yang taat menjalankan perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangan-Nya. Firman-Nya,

“Katakanlah, ‘Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.’” (Q.S. Al-Furqan [25]: 15)

Jadi, selamat berlomba-lomba meraih surga.
 
Sumber : http://safirasafitriaulia.blogspot.com/2011/08/macam-macam-surga-dan-penghuninya.html

Wednesday, July 31, 2013

Definisi Iblis,Jin,dan Syaitan

Assalamu'alaykum Warrahmatullah Wabarakatuh ..... Kali ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Definisi Iblis,Jin dan Syaitan berdasarkan Ayat - Ayat Al Qur'an dan sedikit Logika. Pasti sobat muslim sering denger kata "Iblis" .Sebenarnya siapa itu Iblis? darimana asalnya? nah disini kita ungkap semua nya sampai tuntas, Tapi Kebenarannya hanya milik Allah, kita hanya bisa berusaha untuk mengetahui. jadi bagi yang berbeda pendapat silahkan isi komentar di bawah ya


Apa itu Jin??

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz Dzaariyaat, 56.)

Ya pertama mari kita telusuri dari awal penciptaan Nabi Adam 'Alayhissalam. Dijelaskan pada Al Qur'an tepatnya pada Surah Al Hjr Ayat 27, Bahwa Penciptaan Bangsa Jin lebih dahulu dari pada diciptakannya Manusia ( Adam ) oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Dimana bunyi ayat tersebut sebagai berikut.

"Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (Al Hijr, 27.)
dan pada Ayat lainnya disebutkan pula sebagai berikut :

" 'Sujudlah kamu kepada Adam', maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim. (Al Kahfi, 50)

Dari ayat diatas diketahui bahwasanya Jin bukanlah nama untuk sesosok ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala, melainkan sebangsa Golongan, jadi tingkatan Jin itu bisa dibilang seperti Manusia, kalo dalam biologi disebut Genus. 

Bangsa Jin diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dari Api, Sebagaimana diceritakan dalam Al Qur'an dan Sabda Rasul.
"Dan Dia menciptakan jin dari nyala api." (Ar-Rahman: 15)
"Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian." (HR. Muslim no. 2996 dari ’Aisyah x)

Kesimpulannya : Jin adalah sebuah Bangsa / Golongan dari Makhluk Allah yang diciptakan agar Menyembah Allah Subhanahu wa ta'ala

Siapa itu Iblis??



Setelah tau apa itu Jin sekarang saatnya kita tahu siapa itu Iblis. Dari beberapa ayat mengenai Iblis tadi, sempat kita baca Ada kata baru yaitu Iblis,tepatnya pada Surah Al Kahfi ayat 50. Jadi sebenarnya Iblis itu adalah Makhluk dari Bangsa Jin yang Durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala, dan Iblis ini adalah induk dari semua Jin yang Durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala . Jin pula yang telah menghasut Nabi Adam 'Alayhissalam dan Siti Hawa untuk memakan buah Khuldi sehingga mereka diusir dari SurgaAllah Subhanahu wa ta'ala, Berikut beberapa Kisah tentang Iblis :

Allah berfirman : "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?"
Menjawab iblis : "Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".
Allah berfirman : "Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina".(Al A'raaf, 12, 13)
Iblis menjawab : "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan".
Allah berfirman : "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."
Iblis menjawab : "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
Allah berfirman : "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya".
(Dan Allah berfirman) : "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim".

Maka Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan Syaitan berkata : "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)".

Dan dia (Syaitan) bersumpah kepada keduanya . "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua", maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.

Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka : "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu : "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" ( Al A'raaf, 11-22)

Manusia adalah mahluk yang tinggal di bumi dan dapat terlihat oleh mata, Jadi, yang harus difahami bahwa iblis adalah golongan jin, maksudnya iblis adalah golongan mahluk bumi yang tidak dapat dilihat oleh mata seperti keterangan dibawah ini :

"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh Syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan Syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.(Surat Al A’raaf, 27)

Ayat di atas menjelaskan tentang :
  1. Himbauan Allah kepada manusia supaya tidak mudah tertipu daya Syaitan.
  2. Syaitan dapat melihat manusia tetapi manusia tidak dapat melihat setan.
Kesimpulannya : Iblis adalah Makhluk dari Bangsa Jin yang Durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala karena tidak menaati perintahnya untuk sujud kepada Nabi Adam 'Alayhissalam. Iblis juga adalah Nenek Moyang dari Jin-Jin Durhaka. Iblis juga yang berjanji untuk menghasut dan menggoda Keturunan Adam (Manusia) agar durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala dan tidak akan berhenti hingga Akhir Zaman. Diketahui juga induk dari segala Jin Durhaka ini, Atau disebut Iblis ini tidak akan mati hingga Akhir Zaman, dan pada Akhir Zaman nanti Iblis akan Menangis disaat Sakaratul Mautnya.

Pertanyaannya adalah mengapa ada nama baru dalam kisah ini yaitu Syaitan?


Apa itu Syaitan

Setelah tau apa itu Jin dan Iblis saatnya kita tahu apa sih sebenernya Syaitan itu?? Jadi sebenarnya Syaitan itu adalah Sifat Jahat,Durhaka Terhadap Allah, baik dari Bangsa Jin,Manusia atau yang lain.Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa ta'ala :

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu Syaitan-Syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)." (Al-An’am: 112)


Nah akhirnya kita tahu kan??? jadi Kesimpulannya Syaitan itu adalah semua golongan/jenis Makhluk Ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala yang telah durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala. Jadi Manusia juga bisa disebut Syaitan loh... hayoo Siapa yang mau disebutin Syaitan?? heehehe,,Naudzubillahimindalik

Berikut ini Kesimpulan dari posting saya kali ini .

Kesimpulan

  • Jin adalah sebuah Bangsa / Golongan dari Makhluk Allah yang diciptakan agar Menyembah Allah Subhanahu wa ta'ala, Dan dari golongan ini ada yang taat dan ada yang durhaka
  • Iblis adalah salah satu makhluk dari bangsa jin yang Durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala karena tidak menaati perintahnya untuk sujud kepada Nabi Adam 'Alayhissalam. Iblis juga adalah Nenek Moyang dari Jin-Jin Durhaka yang lainIbli berjanji untuk menghasut dan menggoda keturunan Adam (Manusia) agar durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala dan tidak akan berhenti hingga Akhir Zaman. Diketahui Iblis ini tidak akan mati hingga Akhir Zaman, dan pada Akhir Zaman nanti Iblis akan Menangis disaat Sakaratul Mautnya.
  • Syaitan itu adalah semua golongan / jenis Makhluk Ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala yang telah durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala. Baik dari golongan Manusia,Jin, dan yang lain
Semoga Bermanfaat.
Sumber : http://islamtogether.blogspot.com/2012/07/definisi-iblisjindan-syaitan.html?m=1

Surah Al-Fatihah dan Keutamaannya

Assalamu'alaykum Warrahmatullah Wabarakatuh ..... Berhubung Surah Pertama Dalam Al Quran adalah Surah Al-Fatihah jadi saya ingin sedikit berbagi ilmu tentang surah ini, pernahkah terlintas di benak sobat muslim mengapa Surah Al-Fatihah lah yang menjadi pembuka "Al-Huda"?? Lantas marilah kita simak apa yang Keutamaan-keutamaan yang menjadikan Surah Al-Fatihah sebagai Ummul Kitab.Surah Al-Fatihah (Arab: الفاتح , al-Fātihah, "Pembukaan") adalah surah pertama dalam al-Qur'an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat.Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al-Qur'an.



Bunyi surah Al Fatihah oleh Al-Sudais





Surah Al-Fatihah yang juga disebut sebagai "Ummul Kitab" memiliki beberapa keutamaan sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam.
  1. Surah Al-Fatihah merupakan surah yang paling utama di dalam Al-Qur`an. 
  2. Merupakan surah yang tidak pernah diturunkan dalam Taurat dan Injil, dan tidak ada satu pun yang menyamai surah Al-Fatihah di dalam Al-Qur`an.
  3. Merupakan surah yang langsung diturunkan dari Arsy. 
  4. Sebagai obat penawar, baik lahir maupun batin.
Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran. Dinamakan Ummul Qur’an (induk Al-Quran/أمّ القرءان) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab/أمّ الكتاب) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran. Dinamakan pula As Sab’ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang/السبع المثاني) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat.

Surah Al-Fatihah terdiri dari tujuh. ayat, masing-masing ayat memiliki keistimewaan, makna, dan pengejawantahan bagi. kita dalam kehidupan riil. Misalnya, ayat pertama, satu kata Allah saja dari rangkaian kalimat. bismillaahir rahmaanir rahiim, memiliki makna sangat mendalam dan luas.

Keimanan
Pada ayat 2 surah ini dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. 

Nikmat yang dimaksud pada kalimat diatas antara lain : Nikmat menciptakan, Nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rabb (ربّ) dalam kalimat Rabbul-'aalamiin (ربّ العالمين) tidak hanya berarti Tuhan atau Penguasa, tetapi juga mengandung arti tarbiyah (التربية) yaitu mendidik dan menumbuhkan.

Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan Penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka di dalam surat Al-Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin / إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين (hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan).

Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.Yang dimaksud dengan Yang Menguasai Hari Pembalasan ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Ibadat yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah.

Keutamaan Surah Al Fatihah yang lain adalah, Surah ini wajib dibaca bilamana seseorang melakukan shalat.Apabila seseorang tidak membaca Surah ini maka shalatnya tidak sah,  sebagaimana yang diriwayatka.

"Setiap Shalat tanpa bacaan Fatihah, maka shalat tersebut tidak sempurna.” (HR Muslim “Bab Shalat” 397).
Hadist lain berbunyi,

“Tidak diterima shalat seseorang tanpa membaca Al-Fatihah.” (HR Bukhari “Bab Adzan” 756, Muslim “Bab Shalat” 394)

Walau begitu, hal tersebut tidak berlaku bagi orang yang tidak hafal Al-Fatihah. Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang tidak hafal Al-Fatihah diperintahkan membaca :

"Maha Suci Allah, segala puji milik Allah, tidak ada tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah."
Dalam pelaksanaan salat, Al-Fatihah dibaca setelah pembacaan Doa Iftitah dan dilanjutkan dengan "Amin" dan kemudian membaca ayat atau surah al-Qur'an (pada rakaa'at tertentu). Al-Fatihah yang dibaca pada rakaat pertama dan kedua dalam salat, harus diiringi dengan ayat atau surah lain al-Qur'an. Sedangkan pada rakaat ketiga hingga keempat, hanya Al-Fatihah saja yang dibaca.

Dan dibawah ini adalah beberapa nama lain dari Surah Al Fatihah :
  • Al-Kitab (buku) : Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah [2]:2)
  • Al-Furqan (pembeda benar salah) : Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al Furqaan [25]:1)
  • Adz-Dzikr (pemberi peringatan) : Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr [15]:9)
  • Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat) : Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)
  • Asy-Syifa' (obat/penyembuh) : Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)
  • Al-Hukm (peraturan/hukum)
  • Al-Hikmah (kebijaksanaan)
  • Al-Huda (petunjuk)
  • At-Tanzil (yang diturunkan)
  • Ar-Rahmat (karunia)
  • Ar-Ruh (ruh)
  • Al-Bayan (penerang)
  • Al-Kalam (ucapan/firman)
  • Al-Busyra (kabar gembira)
  • An-Nur (cahaya)
  • Al-Basha'ir (pedoman)
  • Al-Balagh (penyampaian/kabar)
  • Al-Qaul (perkataan/ucapan)
Semoga bermanfaat.
Sumber : http://islamtogether.blogspot.com/2012/07/surah-al-fatihah-dan-keutamaannya.html?m=1

Friday, July 19, 2013

Mendekati Al-Qur'an

Ramadhan, bulan berlimpah kebaikan dan keberkahan. Bulan untuk kita ketam pahala dan anugerah-Nya. Tidak ada yang terlewati dari bulan suci ini kecuali semuanya merasakan kedamaian, ketenangan dan kebahagian.

Di antara amalan yang akan mengundang kebaikan dan berpahala besar adalah mendekati dan membaca Alquran. Atau istilah yang lazim kita dengar dan akrab di bulan Ramadhan adalah tadarus Quran.

Inilah amalan yang tersirat dalam Alquran sebagai amalan yang mengundang keberkahan dan sekaligus mendesain Ramadhan kita menjadi terbaik (QS Al-Baqarah, 2: 185).


Mendekati Alquran berarti membaca, merenungkan, menelaah, dan memahami wahyu-wahyu-Nya. Di bulan inilah Alquran menemukan momentumnya.

Syiarnya sangat berasa dan khas. Di hampir pengeras-pengeras suara mushala atau masjid di negeri ini, Alquran didengungkan.

Orang tua, ibu-ibu, bapak-bapak, remaja dan anak-anak berhimpun bersama, memandangi mushaf, membaca, mempelajari dan mengkajinya.  

Tidak perlu merasa aneh, karena aktivitas tadarus Quran memang sudah melegenda dan turun temurun. Di bulan inilah, Malaikat Jibril turun ke planet bumi untuk menyimak bacaan Alquran Rasulullah.

Utsman bin Affan biasa mengkhatamkan Alquran setiap hari sekali. Imam Syafii mengkhatamkan Alquran sebanyak enam puluh kali.
Al-Aswad setiap dua hari sekali, Qatadah setiap tiga hari sekali atau di tiap malam pada sepuluh malam akhir bulan Ramadhan. Subhanallah.

Terkait larangan Nabi Saw. mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari, Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, itu berlaku di luar Ramadhan. Sementara di bulan Ramadhan apalagi di sepuluh akhir Ramadhan justru menjadi amalan utama.

Alquran disebut sebagai Ma`dubatullah (hidangan Allah SWT.), sebagaimana sabda Rasulullah Saw., "Sesungguhnya Al-Quran ini adalah hidangan Allah, maka kalian terimalah hidangan-Nya itu semampu kalian." (HR. Hakim)

Sungguh, Alquran merupakan suatu hidangan yang tidak pernah membosankan. Semakin dinikmati, semakin bertambah pula kenikmatannya.

Oleh karena itu, setiap orang yang mempercayai Alquran akan semakin bertambah cinta kepadanya, cinta untuk mendekati dan membacanya, mempelajarinya, menghafalkannya, memahaminya, mengamalkannya, dan mengajarkannya.
 
Sumber :  http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/07/19/mq6hhi-mendekati-alquran