Friday, February 1, 2013

...فَٱصۡبِرۡ صَبۡرً۬ا جَمِيلاً...*Bersabarlah dengan Kesabaran yang Baik*



Seorang muslim adalah seorang yang mengikat hati dan hidupnya untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kebahagiaan hakiki nan abadi berupa surga serta selamat dari kesengsaraan hakiki berupa adzab neraka. Hal tersebut ia buktikan dengan amalan-amalan yang nyata.
Dimulai dari pembenaran hatinya akan semua yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya yang diikuti dengan lisannya yang selalu basah dengan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, beramar ma’ruf nahi munkar, lalu dibuktikan dengan amalan badan dan harta yang bisa disaksikan manusia yang mengenalnya.
Satu di antara sekian ikatan iman yang ada dalam pribadi seorang muslim adalah pemaknaan mendalamnya nilai-nilai kesabaran. Seorang muslim yakin betul bahwa sabar adalah obat jitu dikala menghadapi musibah dan persoalan yang ada di depan mata.
Bahkan dalam tinjauan yang lebih dalam bahwa sabar adalah sebuah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang setiap hamba akan mendapatkan pahala dari setiap kesabaran yang ia lakukan. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik.” (QS. Al Ma’arij: 5)
Kesabaran yang baik adalah tidak mengeluh dan tidak mengadukan musibah atau masalah yang dihadapi kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ketika ia berada di tengah manusia, mereka tidak mengetahui bahwa ia sedang dirundung musibah. (Tafsir Al Qurthuby)
Dari penjelasan inipun dapat diketahui bahwa seorang hamba yang mengadukan masalah dan musibah yang ia alami kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan kepada makhluk, hal itu tidak dianggap menghilangkan kesabaran, sebagaimana perkataaan Nabi Ya’qub (yang artinya):
Sesungguhnya aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku hanya kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86)

Kehebatan Muslimah & Mukminah

Dari Abu Hurairah r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda:"Jangan memarahi wanita mukminah. Jika kamu benci akan perangainya, nescaya ada pula yang menyenangkan daripadanya."
(Riwayat Muslim)
Dari Abdullah bin Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w telah bersabda: "Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyakkanlah istighfar iaitu memohon ampun. Kerana aku melihat kaum wanitalah yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka." Seorang wanita yang cukup pintar di antara mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, kenapa kami kaum wanita yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka?" Rasulullah S.A.W bersabda: "Kamu banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat mereka yang kekurangan akal dan agama yang lebih menguasai pemilik akal, daripada golongan kamu. Wanita itu bertanya lagi: "Wahai Rasulullah! Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu? "Rasulullah s.a.w bersabda: "Maksud kekurangan akal ialah penyaksian dua orang wanita sama dengan penyaksian seorang lelaki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga wanita tidak mendirikan sembahyang pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan Ramadhan kerana haid. Maka inilah yang dikatakan kekurangan agama"
(Riwayat Muslim)

Wanita dari asal kejadiannya ( fitrahnya ) memang telah diciptakan berlainan dan berbeza dengan lelaki, adanya kelainan atau perbezaan itu tentu ada maksud dan tujuannya yang tertentu. Lemahnya agama bagi golongan wanita tidak harus dijadikan alasan untuk memadamkan semangat dalam beribadah kerana pada saat seseorang perempuan itu haid atau nifas di mana mereka tidak dapat menjalankan ibadah solat dan puasa, mereka sebenarnya masih mampu menjalankan amal ibadah lain yang berpahala yang dapat mendekatkan diri pada Allah, kecuali sebaliknya iaitu jika mereka melibatkan diri dalam perbuatan yang mendatangkan dosa dan segala sesuatu yang dapat melalaikan bahkan menjauhkan diri daripada Allah.

Manakala perempuan dikatakan kurang (lemah) akalnya kerana fikiran mereka mudah sekali terpengaruh, tertipu dan terpedaya kerana mereka dikurniakan dengan banyak nafsu dan lazimnya mereka tidak berfikir lebih panjang dan bersifat emosional. Oleh itu dalam hal pengadilan Islam lebih mengutamakan lelaki. Tetapi dalam hal yang lain, Islam sama sekali tidak menolak akan hakikat ketajaman pemikiran golongan wanita yang mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan kaum lelaki. Hanya sesungguhnya yang membezakan antara makhluk Allah S.W.T, tidak lain hanyalah nilai ketaqwaan mereka.
ٱلرِّجَالُ قَوَّٲمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٲلِهِمۡ‌ۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌ۬ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ‌ۚ وَٱلَّـٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِى ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّ‌ۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَڪُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡہِنَّ سَبِيلاً‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّ۬ا ڪَبِيرً۬ا
Kaum lelaki itu adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan, oleh kerana Allah telah melebihkan orang-orang lelaki (dengan beberapa keistimewaan) atas orang-orang perempuan dan juga kerana orang-orang lelaki telah membelanjakan (memberi nafkah) sebahagian dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan yang soleh itu ialah yang taat (kepada Allah dan suaminya), dan yang memelihara (kehormatan dirinya dan apa jua yang wajib dipelihara) ketika suami tidak hadir bersama, dengan pemeliharaan Allah dan pertolonganNya dan perempuan-perempuan yang kamu bimbang melakukan perbuatan derhaka (nusyuz) hendaklah kamu menasihati mereka dan (jika mereka berdegil) pulaukanlah mereka di tempat tidur dan (kalau juga mereka masih degil) pukullah mereka (dengan pukulan ringan yang bertujuan mengajarnya). Kemudian jika mereka taat kepada kamu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi, lagi Maha Besar
(Surah An-Nisa 4: Ayat ke 34)

Setelah Bergelar Muslimah


"Iblis menjawab: 'Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at).'" (Surah Al A'raf ayat 16-17).
Ayat Al-Quran di atas sungguh nyata dalam kehidupan manusia. Iblis selalu berusaha menggoda dan mempengaruhi manusia agar melanggar perintah Allah SWT. Begitu banyak cara yang dilakukannya untuk membuat manusia terpedaya terhadap godaannya. Iblis sepertinya tidak akan pernah putus asa untuk menggoda manusia agar mengikutinya.
Demikianlah diri ini sendiri hampir terpedaya kala hati dan batin terasa kosong dan lemah. Godaan itu dapat hadir dalam hal apa pun termasuk godaan untuk kufur hijab. Astaghfirullah...

Semuanya bermula ketika tanggal 15 Oktober 2010 yang lalu tepatnya di usia 20 tahun, aku mengukuhkan niat untuk bersyahadat (masuk islam). Pasca berikrar, menjalani keseharian dalam dunia baru yakni dunia islam bukan satu hal yang mudah bagiku. Aku harus berusaha beradaptasi secara total, mulai dari hal yang spesifik sampai kompleks.
Belum sukses dalam beradaptasi, aku masih harus belajar untuk memenuhi kewajibanku sebagai muslimah diantaranya belajar mengaji dan berhijab yang sya'ri menurut Al Quran. Mengenakan jilbab memang bukan satu hal yang baru bagiku, sebab sebelum sah jadi muslimah pun aku telah mengenakan jilbab. Kesan pertama yang kurasakan begitu nyaman rasanya dibaluti oleh jilbab. Hal ini terjadi kerana aku juga berkuliah di salah satu universitas Islam di Pekan baru Riau. Jadi, pengalaman itu menjadi titik tolak agar ke depannya bisa istiqamah.
Sebelum mengambil keputusan untuk masuk islam, sejujurnya telah ada niat dalam diri aku bahwa setelah jadi muslimah nanti akan mengenakan jilbab. Aku ingin berusaha mengaplikasikan firman Allah yang bermaksud;
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu."
(Surah al-Baqarah ayat 208))
Ya, aku ingin semuanya kaffah (lengkap/sempurna). Sejujurnya ini bukan hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan bagiku juga bagi saudariku muslimah lainnya. Nuraniku benar, memang tidak mudah. Godaan demi godaan datang menghampiriku. Mengawali niat dengan berhijab namun ternyata belum sempurna. Jilbab yang kukenakan masih transparent. Hingga satu waktu kakak tetanggaku memberi nasihat padaku.
"Dek, kakak ada saran. Adek khan udah mengenakan jilbab ni, tapi masih transparan dek", ujarnya.
"Trus aku harus gimana kak"?. Tanyaku polos. Aku nggak punya jilbab tebal seperti yang kakak punya", tambahku.
"Kakak ada solusi buat adek. Jilbabnya dilapis dua saja (di double), jadi nggak bakal transparan lagi", kakak itu mencuba menghilangkan rasa cemasku.
Singkat cerita aku pun diajarkan tentang bagaimana cara melapis jilbab. Bismillah!!! Aku memulai untuk memperbaiki hijabku. Berusaha memperbaiki bukan bererti masalah berakhir sampai di situ. Godaan lain masih terus muncul. Pemikiran orang yang mengatakan bahwa orang yang berhijab panjang dan lebar itu merupakan orang yang ilmu agamanya sudah tinggi menjadi satu keresahan bagiku.
Pemikiran orang-orang tentang hal itu membuatku was-was. Bagaimana jika orang lain menanyakanku tentang agama terhadapku dan pertanyaan itu tidak bisa kujawab?. Hal tersebut kini bersemayam dalam pikiranku.

Satu waktu seorang temanku menanyakan hal yang berkaitan dengan agama. Aku tidak tahu alasan dia bertanya, apa kerana memang tidak mengerti atau hanya menguji. Tidak kuketahui dengan pasti. Namun jujur, aku tidak berani menjawab pertanyaannya itu, kerana konteksnya agama dan aku belum fasih dalam bidang itu. Masih terlalu minimum ilmuku dalam bidang tersebut. Alasan lain kerana aku juga masih proses belajar dari nol (kosong).
Pada saat tu, acapkali Syaitan mulai menggoda nuraniku.

"Untuk apa kamu memakai jilbab panjang tapi ilmu agamamu rendah".Demikian bisikannya.
"Pakai jilbab yang biasa sajalah. Jadi kamu bebas berekspresi, dan kalau pun ilmu agamamu tidak begitu bagus tidak akan jadi bahan ejekan bagi orang lain."

Godaan itu ku rasakan semakin kuat.
Aku benar-benar gusar. Tidak tahu harus bagaimana melawan bisikan itu. Haruskah aku kufur Ya Allah?. Ya Allah, hamba benar-benar bingung. Apakah aku harus kufur dari hijabku??. Pertanyaan itu berulang kali kulontarkan. Untuk mengurangi rasa kegundahan itu, ku cuba bertanya kepada kakak seniorku yang ilmunya mungkin telah jauh lebih tinggi dari ilmuku. Kuraih ponselku (handphone), dan jariku menari di atas keypad.
Namun, persoalanku berkenaan salahkah mengenakan jilbab panjang (labuh) sementara agamanya masih rendah tidak dapat menghapuskan kegelisahanku.
"Kerana jilbab itu adalah harga mati bagi seorang muslimah. Dan setiap muslimah wajib mengenakan jilbab".
Itulah balasan yang kudapat dari seniorku. Mendapat jawaban seperti itu bukannya langsung menghapus kegelisahanku. Nuraniku masih saja tidak tenang. Rasanya berkecamuk dalam batinku. Lama aku merenungi diri tentang apa yang sedang kurasakan.
Ya Rabbi, bagaimana caranya aku harus mengubati kegundahan ini. Selang beberapa minit aku termenung, aku teringat Al Quran.
Nurani ku berbisik "Sampai kapan (bila) kamu dirundung kebingungan seperti ini. Dan sampai kapan kamu gelisah hanya memikirkan hal itu. Apa dengan alasan karena belum bisa mengaji jadi satu alasan bagimu untuk kufur dalam berhijab? Tidakkah kamu pernah membaca dalam Al Quran bahawasanya setiap muslimah itu sesungguhnya diwajibkan mengulurkan (melabuhkan) jilbabnya? Lantas, sekarang apa yang kamu resahkan?
Aku tersedar dari lamunanku. Nurani itu benar. Sejauh ini aku belum pernah lagi membaca bahawasanya orang yang dibolehkan untuk mengulurkan (melabuhkan) jilbabnya hanyalah orang yang telah memiliki ilmu yang tinggi. Tidak! bahkan semua muslimah wajib mengulurkannya (melabuhkannya).

Teringat pada firman Allah SWT yang berbunyi;
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan (melabuhkan) jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."
(Surah al-Ahzab ayat 59)
Al Quran di atas membangkitkanku dari keterpurukan (kemunduran)fikirku. Kini aku memiliki prinsip baru. "Berusaha menyempurnakan hijab sambil belajar agama. Biar sedikit namun langsung teraplikasikan" itu lebih baik. Untuk apa aku memiliki ilmu yang tinggi namun tidak pernah diaplikasikan."
Dari pengalaman ini aku belajar untuk menghargai ilmu yang kudapatkan. Ke depannya aku berharap tetap istiqomah di jalan-Nya. Dan kewajibanku sebagai muslimah bisa segera kutunaikan. Kerana ku yakin jikalau ada kemahuan pastinya ada jalan.
Saudariku, tidak mudah untuk istiqamah, namun dengan berbagai upaya yang kita lakukan InsyaAllah semuanya dapat dijalani. Justeru, sekarang tidak ada alasan lagi  untuk tidak menggunakan jilbab?. Yakinlah bahawa setiap kesulitan itu pasti akan diriingi dengan kemudahan. Dengan mengharap ridha-Nya, InsyaAllah semunya pasti bisa dijalani.
Allah berfirman yang bermaksud;
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."
(Surah al-Insyirah ayat 5)
- Artikel iluvislam.com

Takdir Itu KetentuanNya


Setiap orang mengimpikan sebuah perjalanan ke alam baitulmuslim yang sangat indah. Kita sentiasa merancang, tetapi pengakhirannya tetap bergantung kepada satu perkara iaitu takdir Allah SWT kerana sesungguhnya perancangan Allah itu mengatasi perancangan manusia itu sendiri.
Sebaik mana pun perancangan seseorang, namun perancangan Allah jualah yang lebih baik dan terbaik pada setiap keadaan dan waktu. Apa yang pasti, setiap perancangan dan ketentuanNya itu pastilah yang terindah walaupun di mata kasar seorang manusia, seribu manikam menikam sukmanya.
Dalam meniti usia senja, perancangan demi perancangan di bina dan di susun serapinya. Pada usia muda, pelajaran menjadi keutamaan. Namun dalam masa yang sama, tuntutan fitrah untuk membina hubungan halal turut meraih tempat dalam perancangan kita. Kita mula mengatur langkah dengan mencari bagi si teruna dan menanti bagi si puteri. Ada  yang menanti dalam diam, dan ada juga yang sama-sama menongkah zaman. Menjadi 'berani' ke hadapan namun tetap berada di dalam jagaan 'malu' dan 'rapinya' seorang wanita. Lantas, orang tengah menjadi pengantara.
Di saat kita mengatur langkah, merancang untuk menuju ke fasa yang penuh cabaran dan mehnah, adakah impian untuk membina baitulmuslim akan mempunyai pengakhiran yang indah belaka? Adakah niat kita untuk berbaitulmuslim benar-benar tepat dengan matlamat asalnya iaitu menikah di jalan dakwah?
Takdir yang bakal tiba segalanya berada digenggamanNya. Kita hanya mampu bertanya namun, jawapannya akan terjawab tatkala kita sudah pun berada di'dalamnya' - alam berumahtangga.
Terdapat beberapa kisah benar wanita solehah yang ingin ana kongsikan bersama-sama untuk dijadikan sebagai satu motivasi supaya akhowat tetap teguh sebagai seorang Da'ie di jalanNya. InsyaAllah.
Kisah 1
Kagum sungguh dengan ukhti yang seorang ini. Sebelum ukhti ini berubah, dia pernah bercouple dengan seorang akhi. Dahulu kedua-duanya masih lagi di jalan kejahilan. Dan selepas Allah memberikan hidayah kepada ukhti ini terlebih dahulu dia terus-terusan bermujahadah di jalan Allah.
Bertahun-tahun lamanya ukhti ini bermujahadah. Manakala akhi ini pula terus-terusan cuba untuk menganggu ukhti tersebut dan ingin mendapatkn kepastian mengapa dia ditinggalkan begitu sahaja. Dan akhirnya akhi ini pun mengalah dan dia pula diberikan hidayah oleh Allah. Masing-masing mula menyepi dan mantap di jalan dakwah.
Selepas bertahun-tahun menyepi akhi ini mula mencari ukhti tersebut di facebook. Dan selepas ukhti ini melakukan istikharah, yakin dengan ketentuan yang diberikan olehNya, ukhti tersebut terus memulakan langkah perkenalan untuk ke langkah seterusnya. Alhamdulillah, baru-baru ini saya menerima walimatulurus daripada mereka berdua. Bersyukur ke hadarat Illahi kerana usaha mereka mujahadah bertahun-tahun lamanya akhirnya berbaloi juga. Allahuakbar. 
Kisah 2
Seorang muslimah, alhamdulillah jodohnya ditetapkan awal oleh Allah. Menikah dengan seorang ikhwah. Yang kelihatan mantap di jalan dakwah. Gerak dakwah berterusan selepas perkahwinan sepertimana sebelum menikah. Namun kini kedua-duanya berhenti daripada terus bersama. Silapnya di mana? Wallahua'lam. Allah lebih tahu apa yang terjadi di tengah perjalanan perjuangan.
Kisah 3
Sudah beberapa tahun menunggu kedatangan seorang ikhwah. Namun belum datang bertandang. Dalam penantian, beberapa lamaran menjelma. Walaupun usia makin bertambah, namun setiap risikan dan lamaran ditolak dengan sebab lelaki tersebut bukan ikhwah yang didamba peribadinya.
Sehingga sampai ke satu masa, akhirnya tibalah saat-saat yang dinanti. Datanglah permintaan berbaitulmuslim dari seorang ikhwah, yang sangat mantap dalam gerak dakwahnya. Dan akhirnya istiqamah sehingga kini.
Saat ditanya, kenapa akak sanggup tunggu? Dia cuma tersenyum sambil berkata,
"kerana akak yakin akan janji Tuhan. Dan akak akan tetap tunggu 'ikhwah' sampai bila-bila. Dan dalam baitul muslim, bukan bergantung kepada siapa yang kita suka, tetapi kita perlu bersedia menerima sesiapa sahaja, asalkan dia tetap berpegang kepada fikrah yang sama. Itu prinsip akak."
Kisah 4
Tetap juga menunggu beberapa tahun sehingga lewat 20-an. Akhirnya datang lamaran daripada seorang lelaki, yang bukan mantap agamanya. Dan keduanya bertunang. Beberapa bulan selepas pertunangan, datanglah beberapa risikan daripada ikhwah melalui ibu usrahnya.
Namun takdir mendahului, sudah menjadi tunangan orang, yang bukan seorang ikhwah. Dan kini, alhamdulillah ukhti itu tetap bergerak, dan mendapat sokongan zaujnya walaupun bukanlah seorang pendokong. Namun tetap seorang penyokong yang baik.
Demikianlah takdir susunan Allah pasti adalah yang terbaik. Yang tinggal adalah apa yang kita betul-betul inginkan. Adakah hanya sebuah rumahtangga untuk menghalalkan hubungan? Atau sebuah perkahwinan supaya tidak bersendirian? Atau sebuah baitulmuslim untuk sama-sama berjuang di jalan dakwah?
Kesimpulannya, dalam merancang niat juga usah dilupakan. Niat awali lah ia hanya semata-mata kerana Allah. InsyaAllah, pastinya sebuah perancangan yang diniatkan keranaNya akan mendapat rahmat dan berkat dariNya. Jika seandainya perancangan kita itu tidak terjadi, pasti hati kita mudah merasa redha dan tenang menerimanya. InsyaAllah~
Wallahua'lam.
- Artikel iluvislam.com