Tuesday, May 28, 2013

Bahaya Dengki

Seorang bijak berkata: "Orang dengki menentang Tuhannya dengan lima cara, yaitu:

Pertama: Benci terhadap setiap nikmat yang ada pada orang lain.

Kedua: Marah terhadap anugerah Allah, seakan-akan ia berkata kepada Tuhannya: “Mengapa Engkau melakukan pembagian seperti ini?”

Ketiga: Bahwa ia kikir terhadap karunia Allah yaitu bahwa nikmat itu adalah karunia Allah dan Allah akan memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sementara ia kikir terhadap karunia Allah itu.

Keempat: Membiarkan dan tidak menolong orang yang diberi nikmat Allah, karena ia menginginkan kehinaan dan hilangnya nikmat itu darinya.

Kelima: Menolong musuhnya, yaitu iblis yang di laknat Allah."

MASA HAIDH BUKAN MASA LIBUR IBADAH

Banyak kaum wanita yang menganggap masa haidh sebagai masa libur ibadah. Bahkan tak jarang mereka menyebut masa haidh sebagai masa libur. Sebab, selama masa itu mereka tidak boleh mengerjakan shalat dan shaum.

Benarkah anggapan mereka ini? Tentu saja tidak! Jika yang mereka maksud adalah meninggalkan semua atau sebagian besar ibadah. Akan tetapi begitulah kenyataan yang kita dapati. Ingatlah wahai saudariku, bagi seorang muslim tidak ada istilah libur ibadah.

Berapa banyak kaum wanita yang merasa bahwa datangnya masa haidh seperti lepasnya beban berat yang ia pikul selama masa suci. Ia merasa begitu lega, santai dan bisa melakukan apa saja tanpa harus terganggu dengan datangnya waktu shalat.

Saudariku muslimah,

Ketahuilah, itu adalah perangkap setan. Setan membuat indah anggapan mereka itu. Setan sangat berhasrat menjebak kalian dalam kelalaian. Lalai dari mengingat Allah dan lalai mengingat akhirat. Sebab, jika engkau lalai niscaya setan dapat dengan mudah menggiringmu kepada kemurkaan Allah Karena itu, janganlah kalian tertipu.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dan orang yang tidak berdzikir kepada Rabb-nya adalah seperti perbedaan antara orang yang hidup dan yang mati.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu'anhu]

Renungkanlah wahai saudariku muslimah, …

Pantaskah seorang muslimah merasa santai di saat terluput darinya sebuah ibadah yang sangat agung di dalam Islam? Ibadah yang tidak bisa disetarakan dengan ibadah apapun yaitu shalat dan shaum. Pantaskah ia bergembira di saat ia tidak bisa berdiri bermunajat kepada Rabb yang Maha Agung, berbicara langsung dengan-Nya dalam shalat?

Seharusnya semangat mereka lebih terpacu. Yaitu se mangat untuk menggantikan terluput keutamaan ibadah shalat dan shaum.

Banyak kita temui para wanita, terutama para gadis, menjadikan masa haidh ini sebagai masa untuk mengo songkan pikiran dan jeda ibadah dengan alasan rileks ka rena datang bulan. Sehingga banyak waktunya yang terbuang percuma tanpa faedah sedikitpun bagi akhiratnya. Akhirnya, begitu masa suci tiba ia merasa berat untuk memulai kembali aktivitas ibadahnya.

5 Keutamaan Shalat Subuh

1. Shalat Subuh adalah Faktor
Dilapangkannya Rezeki

“…..Hai Fathimah, bangun dan saksikanlah rezeki
Rabbmu, karena Allah membagi-bagikan­rezeki
para hamba antara shalat Subuh dan terbitnya
matahari.” (H.R. Baihaqi)

2. Shalat Subuh Menjaga Diri Seorang
Muslim

“Barangsiapa melaksanakan shalat Subuh, maka
ia berada dalam jaminan Allah, maka jangan
sampai Allah menarik kembali jaminan-Nya
kepada kalian dengan sebab apapun…” (H.R.
Muslim)

3. Shalat Subuh adalah Tolak Ukur Keimanan

“Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia
berkata, “Kami melaksanakan shalat Subuh
berjamaah bersama Nabi dan tidak ada yang ikut
serta selain orang yang sudah jelas
kemunafikannya.” (H.R. Muslim)

4. Shalat Subuh adalah Penyelamat dari
Neraka

“Tidak akan masuk neraka, orang yang
melaksanakan shalat sebelum matahari terbit dan
sebelum tenggelamnya.” (H.R. Muslim)

5. Shalat Subuh Lebih Baik daripada Dunia dan
Seisinya

“Dua rakaat shalat Subuh, lebih baik daripada
dunia dan seisinya.” (H.R. Muslim)

Inilah sebagian sisi yang menggambarkan betapa
utama dan nikmatnya shalat Subuh dan bertasbih
di waktu Subuh.

Friday, May 24, 2013

Aku Hamba Yang Berlumuran Dosa

‎بسم الله الرحمن الرحيم

Berikut ini adalah untaian syair yang ditulis oleh Jamaluddin Yahya bin Yusuf Ash Shorshori Al Hanbali rahimahullah. Syair ini telah dinukil oleh Ibnul Muflih Al Maqdisi Al Hanbali rahimahullah (wafat tahun 763 H) di penghujung kitabnya yang sangat masyhur yang berjudul Al Aadaabu Asy Syar’iyah (3/562-563).

ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻛَﺴَﺐَ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺑَﺎ ***** ﻭَﺻَﺪَّﺗْﻪُ ﺍﻟْﺄَﻣَﺎﻧِﻲ ﺃَﻥْ ﻳَﺘُﻮﺑَﺎ

Aku adalah hamba yang telah bergelimang dosa
Angan-angan telah menghalanginya untuk bertaubat

ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﺿْﺤَﻰ ﺣَﺰِﻳﻨًﺎ ***** ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻟَّﺎﺗِﻪِ ﻗَﻠِﻘًﺎ ﻛَﺌِﻴﺒَﺎ

Aku adalah hamba yang sangat bersedih
atas kesalahan dan ketergelinciran, gelisah, dan cemas

ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺳُﻄِﺮَﺕْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ***** ﺻَﺤَﺎﺋِﻒُ ﻟَﻢْ ﻳَﺨَﻒْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﻟﺮَّﻗِﻴﺒَﺎ

Aku adalah hamba yang lembaran-lembaran catatan amal telah mencatat dosa-dosanya akan tetapi ia tetap tidak takut kepada Ar Raqib (Allah Yang Maha Mengawasi)

ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺍﻟْﻤُﺴِﻲﺀُ ﻋَﺼَﻴْﺖُ ﺳِﺮًّﺍ ***** ﻓَﻤَﺎ ﻟِﻲ ﺍﻟْﺂﻥَ ﻟَﺎ ﺃُﺑْﺪِﻱ ﺍﻟﻨَّﺤِﻴﺒَﺎ

Aku adalah hamba yang bersalah. Aku telah bermaksiat tatkala bersendirian
Lantas kenapa hingga saat ini aku belum menampakkan ratapanku?

ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺍﻟْﻤُﻔَﺮِّﻁُ ﺿَﺎﻉَ ﻋُﻤُﺮِﻱ ***** ﻓَﻠَﻢْ ﺃَﺭْﻉَ ﺍﻟﺸَّﺒِﻴﺒَﺔَ ﻭَﺍﻟْﻤَﺸِﻴﺒَﺎ

Aku adalah hamba yang lalai, telah sia-sia usiaku
Aku tidak memperhatikan masa muda dan masa tuaku

ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺍﻟْﻐَﺮِﻳﻖُ ﺑِﻠُﺞِّ ﺑَﺤْﺮٍ ***** ﺃَﺻِﻴﺢُ ﻟَﺮُﺑَّﻤَﺎ ﺃَﻟْﻘَﻰ ﻣُﺠِﻴﺒَﺎ

Aku adalah hamba yang tenggelam dalam ombak lautan
Aku berteriak semoga aku menemukan penjawab seruanku

ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺍﻟﺴَّﻘِﻴﻢُ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺨَﻄَﺎﻳَﺎ ***** ﻭَﻗَﺪْ ﺃَﻗْﺒَﻠْﺖُ ﺃَﻟْﺘَﻤِﺲُ ﺍﻟﻄَّﺒِﻴﺒَﺎ

Aku adalah hamba yang sakit menderita karena dosa-dosa
Sungguh aku telah datang mencari tabib

ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳﺪُ ﻇَﻠَﻤْﺖُ ﻧَﻔْﺴِﻲ ***** ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺍﻓَﻴْﺖُ ﺑَﺎﺑَﻜُﻢْ ﻣُﻨِﻴﺒَﺎ

Aku adalah hamba yang tersesat, aku telah menzolimi diriku
Sungguh aku telah kembali berada di pintu-Mu bertaubat

ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟْﻤُﻀْﻄَﺮُّ ﺃَﺭْﺟُﻮ ﻣِﻨْﻚَ ﻋَﻔْﻮًﺍ ***** ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺮْﺟُﻮ ﺭِﺿَﺎﻙَ ﻓَﻠَﻦْ ﻳَﺨِﻴﺒَﺎ

Aku adalah orang yang terpuruk mengharapkan ampunan-Mu
Siapa yang mengharapkan ridho-Mu maka ia tidak akan kecewa

ﻓَﻴَﺎ ﺃَﺳَﻔَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﻋُﻤُﺮٍ ﺗَﻘَﻀَّﻰ ***** ﻭَﻟَﻢْ ﺃَﻛْﺴِﺐْ ﺑِﻪِ ﺇﻟَّﺎ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺑَﺎ

Sungguh aku menyesal dengan usiaku yang telah lewat
Aku tidak mengisinya kecuali dengan dosa-dosa

ﻭَﺃَﺣْﺬَﺭُ ﺃَﻥْ ﻳُﻌَﺎﺟِﻠَﻨِﻲ ﻣَﻤَﺎﺕٌ ***** ﻳُﺤَﻴِّﺮُ ﻫَﻮْﻝُ ﻣَﺼْﺮَﻋِﻪِ ﺍﻟﻠَّﺒِﻴﺒَﺎ

Aku takut kematian mendahuluiku (sebelum bertaubat)
Orang yang berakal akan terperanjat kebingungan menghadapi kedahsyatan serangannya

ﻭَﻳَﺎ ﺣُﺰْﻧَﺎﻩُ ﻣِﻦْ ﻧَﺸْﺮِﻱ ﻭَﺣَﺸْﺮِﻱ ***** ﺑِﻴَﻮْﻡٍ ﻳَﺠْﻌَﻞُ ﺍﻟْﻮِﻟْﺪَﺍﻥَ ﺷِﻴﺒَﺎ

Sungguh sangat menyedihkan jika aku dibangkitkan dan dikumpulkan
Pada hari (kiamat) yang menjadikan anak-anak beruban

ﺗَﻔَﻄَّﺮَﺕِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀُ ﺑِﻪِ ﻭَﻣَﺎﺭَﺕْ ***** ﻭَﺃَﺻْﺒَﺤَﺖِ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝُ ﺑِﻪِ ﻛَﺜِﻴﺒَﺎ

Langit terbelah dan tergoncang
Jadilah gunung-gunung berterbangan

ﺇﺫَﺍ ﻣَﺎ ﻗُﻤْﺖُ ﺣَﻴْﺮَﺍﻧًﺎ ﻇَﻤِﻴﺌَﺎ ***** ﺣَﺴِﻴﺮَ ﺍﻟﻄَّﺮْﻑِ ﻋُﺮْﻳَﺎﻧًﺎ ﺳَﻠِﻴﺒَﺎ

Tatkala aku dibangkitkan dalam keadaan bingung penuh dahaga
Menundukkan pandangan,telanjang, dan tidak membawa apapun

ﻭَﻳَﺎ ﺧَﺠَﻠَﺎﻩُ ﻣِﻦْ ﻗُﺒْﺢِ ﺍﻛْﺘِﺴَﺎﺑِﻲ ***** ﺇﺫَﺍ ﻣَﺎ ﺃَﺑْﺪَﺕْ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒُ ﺍﻟْﻌُﻴُﻮﺑَﺎ

Sungguh memalukan akibat buruknya perbuatanku
Tatkala lembaran-lembaran catatan amal mengumbar aib-aibku

ﻭَﺫِﻟَّﺔِ ﻣَﻮْﻗِﻒٍ ﻭَﺣِﺴَﺎﺏِ ﻋَﺪْﻝٍ ***** ﺃَﻛُﻮﻥُ ﺑِﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﺣَﺴِﻴﺒَﺎ

Kondisi yang sangat menghinakan serta perhitungan yang adil
Akupun mengetahui hisab diriku tatkala itu

ﻭَﻳَﺎ ﺣَﺬَﺭَﺍﻩُ ﻣِﻦْ ﻧَﺎﺭٍ ﺗَﻠَﻈَّﻰ ***** ﺇﺫَﺍ ﺯَﻓَﺮَﺕْ ﻭَﺃَﻗْﻠَﻘَﺖِ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺑَﺎ

Sungguh berhati-hatilah dengan neraka yang menyala-nyala
Tatkala terdengar suara teriakan siksaan dan hati-hati pun bergejolak

ﺗَﻜَﺎﺩُ ﺇﺫَﺍ ﺑَﺪَﺕْ ﺗَﻨْﺸَﻖُّ ﻏَﻴْﻈًﺎ ***** ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻇَﻠَّﺎﻣًﺎ ﻣُﺮِﻳﺒَﺎ

Hampir-hampir saja neraka menampakkan kemurkaannya
Kepada orang yang zolim dan ragu (akan hari akhirat)

ﻓَﻴَﺎ ﻣَﻦْ ﻣَﺪَّ ﻓِﻲ ﻛَﺴْﺐِ ﺍﻟْﺨَﻄَﺎﻳَﺎ ***** ﺧُﻄَﺎﻩُ ﺃَﻣَﺎ ﺃَﻧَﻰ ﻟَﻚَ ﺃَﻥْ ﺗَﺘُﻮﺑَﺎ

Wahai yang terus melangkahkan kakinya untuk melakukan dosa,
Kapankah engkau akan bertaubat?

ﺃَﻟَﺎ ﻓَﺎﻗْﻠِﻊْ ﻭَﺗُﺐْ ﻭَﺍﺟْﻬَﺪْ ﻓَﺈِﻧَّﺎ ***** ﺭَﺃَﻳْﻨَﺎ ﻛُﻞَّ ﻣُﺠْﺘَﻬِﺪٍ ﻣُﺼِﻴﺒَﺎ

Hendaknya engkau berhenti dari dosa-dosamu dan bertaubatlah
Bersungguh-sungguhlah, karena kita melihat setiap yang bersungguh-sungguh mendapat kebenaran

ﻭَﻛُﻦْ ﻟِﻠﺼَّﺎﻟِﺤِﻴﻦَ ﺃَﺧًﺎ ﻭَﺧِﻠًّﺎ ***** ﻭَﻛُﻦْ ﻓِﻲ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻏَﺮِﻳﺒَﺎ

Bersaudaralah dan bersahabatlah dengan orang-orang sholeh
Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang asing

ﻭَﻛُﻦْ ﻋَﻦْ ﻛُﻞِّ ﻓَﺎﺣِﺸَﺔٍ ﺟَﺒَﺎﻧًﺎ ***** ﻭَﻛُﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻣِﻘْﺪَﺍﻣًﺎ ﻧَﺠِﻴﺒَﺎ

Jadilah engkau pengecut lari dari segala perbuatan keji
Dan jadilah engkau orang yang bersegera maju dan hebat dalam kebajikan

ﻭَﻟَﺎﺣِﻆْ ﺯِﻳﻨَﺔَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﺒُﻐْﺾٍ ***** ﺗَﻜُﻦْ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟَﻰ ﺣَﺒِﻴﺒَﺎ

Pandangilah perhiasan dunia dengan kebencian
Niscaya engkau akan menjadi hamba Allah yang dicintai

ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﺨْﺒُﺮْ ﺯَﺧَﺎﺭِﻓَﻬَﺎ ﻳَﺠِﺪْﻫَﺎ ***** ﻣُﺨَﺎﻟِﺒَﺔً ﻟِﻄَﺎﻟِﺒِﻬَﺎ ﺧَﻠُﻮﺑَﺎ

Barang siapa yang mencoba perhiasan dunia,
Maka ia akan mendapatinya sangat memikat akan tetapi sangat menipu

ﻭَﻏُﺾَّ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻤَﺤَﺎﺭِﻡِ ﻣِﻨْﻚ ﻃَﺮْﻓًﺎ ***** ﻃَﻤُﻮﺣًﺎ ﻳَﻔْﺘِﻦُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟْﺄَﺭِﻳﺒَﺎ

Hendaknya engkau menundukkan lirikanmu dari perkara yang haram
Godaan yang memfitnah lelaki yang cerdas

ﻓَﺨَﺎﺋِﻨَﺔُ ﺍﻟْﻌُﻴُﻮﻥِ ﻛَﺄُﺳْﺪِ ﻏَﺎﺏٍ ***** ﺇﺫَﺍ ﻣَﺎ ﺃُﻫْﻤِﻠَﺖْ ﻭَﺛَﺒَﺖْ ﻭُﺛُﻮﺑَﺎ

Sungguh lirikan mata yang berkhianat ibarat singa hutan
Kapan saja engkau lalai maka ia akan benar-benar menerkam

ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻐْﻀُﺾْ ﻓُﻀُﻮﻝَ ﺍﻟﻄَّﺮْﻑِ ﻋَﻨْﻬَﺎ ***** ﻳَﺠِﺪْ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﺭَﻭْﺣًﺎ ﻭَﻃِﻴﺒَﺎ

Siapa yang menundukkan pandangannya darinya
Maka ia akan mendapatkan keharuman dalam hatinya

ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻄْﻠِﻖْ ﻟِﺴَﺎﻧَﻚَ ﻓِﻲ ﻛَﻠَﺎﻡٍ ***** ﻳَﺠُﺮُّ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺃَﺣْﻘَﺎﺩًﺍ ﻭَﺣُﻮﺑَﺎ

Janganlah engkau melepas lisanmu untuk mengucapkan
perkataan yang menjerumuskan engkau pada kedengkian dan dosa

ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺒْﺮَﺡْ ﻟِﺴَﺎﻧُﻚَ ﻛُﻞَّ ﻭَﻗْﺖٍ ***** ﺑِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺭَﻳَّﺎﻧًﺎ ﺭَﻃِﻴﺒَﺎ

Hendaknya lisanmu senantiasa basah untuk berzikir kepada Allah

ﻭَﺻَﻞِّ ﺇﺫَﺍ ﺍﻟﺪُّﺟَﻰ ﺃَﺭْﺧَﻰ ﺳُﺪُﻭﻟًﺎ ***** ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻀْﺠَﺮْ ﺑِﻪِ ﻭَﺗَﻜُﻦْ ﻫَﻴُﻮﺑَﺎ

Sholatlah tatkala di larut malam
Dan janganlah engkau bosan akan tetapi semangatlah

ﺗَﺠِﺪْ ﺃُﻧْﺴًﺎ ﺇﺫَﺍ ﺃُﻭﻋِﻴﺖَ ﻗَﺒْﺮًﺍ ***** ﻭَﻓَﺎﺭَﻗْﺖَ ﺍﻟْﻤُﻌَﺎﺷِﺮَ ﻭَﺍﻟﻨَّﺴِﻴﺒَﺎ

Engkau akan mendapati sholat malammu sebagai penghiburmu
tatkala engkau dimasukkan kuburan dan berpisah dengan kerabat dan keluarga

ﻭَﺻُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺖ ﺗَﺠِﺪْﻩُ ﺭِﻳًّﺎ ***** ﺇﺫَﺍ ﻣَﺎ ﻗُﻤْﺖَ ﻇَﻤْﺂﻧًﺎ ﺳَﻐِﻴﺒَﺎ

Berpuasalah semampumu, engkau akan mendapatinya sebagai penghilang dahagamu
tatkala engkau dibangkitkan dalam keadaan kehausan dan kelaparan

ﻭَﻛُﻦْ ﻣُﺘَﺼَﺪِّﻗًﺎ ﺳِﺮًّﺍ ﻭَﺟَﻬْﺮًﺍ ***** ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺒْﺨَﻞْ ﻭَﻛُﻦْ ﺳَﻤْﺤًﺎ ﻭَﻫُﻮﺑَﺎ

Bersedekahlah engkau baik nampak maupun diam-diam
Janganlah pelit, akan tetapi dermawanlah dan seringlah memberi

ﺗَﺠِﺪْ ﻣَﺎ ﻗَﺪَّﻣَﺘْﻪُ ﻳَﺪَﺍﻙَ ﻇِﻠًّﺎ ***** ﺇﺫَﺍ ﻣَﺎ ﺍﺷْﺘَﺪَّ ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺱِ ﺍﻟْﻜُﺮُﻭﺑَﺎ

Niscaya engkau akan mendapat kebajikan yang kau lakukan sebagai naungan bagimu
di hari seluruh manusia dalam keadaan genting penuh kesulitan

ﻭَﻛُﻦْ ﺣَﺴَﻦَ ﺍﻟﺴَّﺠَﺎﻳَﺎ ﺫَﺍ ﺣَﻴَﺎﺀٍ ***** ﻃَﻠِﻴﻖَ ﺍﻟْﻮَﺟْﻪِ ﻟَﺎ ﺷَﻜِﺴًﺎ ﻏَﻀُﻮﺑَﺎ

Jadilah engkau orang yang berperangai baik lagi pemalu
Penebar senyum dan bukan pemarah lagi berperangai buruk

-----------------------------

Ya Allah ampunilah aku, aku hamba yang berlumur dosa

Semoga di bulan suci ini kita semua diberikan ampunan atas dosa-dosa kita
dan semoga Allah menuntun kita ke jalan yang lurus. Amin ya Allah ya Robbal ‘alamin. Tetaplah istiqomah.

Selamat menjalankan ibadah puasa. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Penulis: Novaida Van Java. Tulisan ini telah mengalami perubahan seperlunya oleh admin blog.

Hukum Tambahan Lafazh "Sayyidina" Dalam Shalawat Nabi.

بسم الله الرحمن الرحيم

Kaum muslimin berselisih pendapat tentang hukum penambahan lafazh “sayyidina” di dalam shalawat nabi. Ada yang mengatakan boleh, ada yang mengatakan wajib, dan ada pula yang mengatakan tidak boleh. Mari kita melihat riwayat hadits dan sejarah Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم dan para sahabat beliau.

Ternyata penambahan lafazh “sayyidina” ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah  صلى الله عليه وسلم , para sahabat, dan tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Jika seandainya penambahan lafazh “sayyidina” di dalam shalawat disyariatkan pastilah hal ini telah tersebut di dalam riwayat-riwayat hadits yang shahih. Ternyata hal seperti ini tidak ditemukan sama sekali di dalam kitab-kitab hadits.

Berikut ini kami sampaikan beberapa bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada umatnya. Bentuk-bentuk shalawat seperti inilah yang seharusnya diamalkan oleh seorang muslim karena tidaklah Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan suatu perkara kepada umatnya melainkan ia pastilah merupakan suatu kebaikan yang tidak ada kebaikan lain yang lebih baik daripadanya, sehingga tidak perlu lagi dilakukan penambahan atau pengurangan sedikitpun terhadapnya.

1. Dari Abu Humaid As Sa’idi radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Para sahabat berkata: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami bershalawat untuk anda?’ Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab: Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

[HR Al Bukhari (3369) dan Muslim (407)]

2. Dari Abdurrahman bin Abi Laila, dia berkata: Ka’b bin ‘Ujrah radhiallahu ‘anhu menemuiku, lalu dia berkata: ‘Maukah engkau kuberikan sebuah hadiah yang kudengar dari Nabi صلى الله عليه وسلم ?’ Aku menjawab: ‘Tentu saja.’ Lalu dia memberikan hadiah itu untukku. Dia berkata: ‘Kami pernah bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم : Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat kepada kalian Ahlul Bait, karena Allah telah mengajari kami bagaimana cara mengucapkan salam kepada kalian?’ Beliau menjawab: Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

[HR Al Bukhari (3370) dan Muslim (406)]

3. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Kami (para sahabat) berkata: ‘Wahai Rasulullah, ini adalah (cara mengucapkan) salam kepada anda, lalu bagaimana cara kami bershalawat untuk anda?’ Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ.

[HR Al Bukhari (4798)]

4. Dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendatangi kami yang sedang berkumpul di majelis Sa’d bin Ubadah. Lalu Basyir bin Sa’d berkata kepada beliau: ‘Allah ta’ala memerintahkan kami untuk bershalawat untuk anda, wahai Rasulullah. Lalu bagaimana cara kami bershalawat untuk anda?’ Lalu Rasulullah diam sampai-sampai kami berandai-andai dia (Basyir) tadi tidak bertanya kepada beliau. Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab: “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ في العَالمَيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Adapun salam (untukku) maka seperti yang telah kalian ketahui.” [HR Muslim (405)]

Adapun yang dimaksud oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم tentang salam tersebut adalah lafadh: السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ .

Di dalam beberapa riwayat hadits-hadits di atas ada tambahan di luar Shahihain (Shahih Al Bukhari dan Muslim). Untuk lebih lengkapnya, silakan membaca kitab Shifatush Sholatin Nabi صلى الله عليه وسلم karangan Syekh Al Albani rahimahullah.


Jadi, penggunaan tambahan lafadh “sayyidina” di dalam shalawat Nabi tidaklah disyariatkan. Penambahan lafadh ini juga bukanlah suatu bentuk kecintaan yang benar kepada Rasulullah  صلى الله عليه وسلم .

Justru sebaliknya, dengan tidak menggunakan lafazh “sayyidina” di dalam shalawat Nabi menunjukkan akan kecintaan kita dan pengagungan kita terhadap sunnah beliau, karena kita telah melakukan usaha pemurnian terhadap sunnah beliau dan mengikuti tuntunan beliau. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu) : "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah itu Ghafur (Maha Pengampun) lagi Rahim (Maha Penyayang).” [QS Alu Imran: 31]

والحمد لله

Wednesday, May 22, 2013

Sejatinya HIJAB

Sejatinya, hijab itu menutupi bukan membungkus apalagi membalut
Hijab harusnya melindungi, bukan memancing para lelaki.

Hijab harusnya menyembunyikan kecantikan dan keindahan wanita, bukan dijadikan sarana tebar pesona semata apa lagi untuk gaya. Naudzubillah...

Hijab bukanlah sekedar style, yang selalu mengikuti perkembangan mode dunia.

Hijab bukan sesuatu yang bisa engkau padu padankan ses
uka hati tanpa aturan syar'I.

Islam mengatur bagaimana kita berhijab. Tak sadarkah kehormatan kalian telah dipermainkan oleh "trend"?
Apa yang kau cari saudariku? Perhatian kah?
Tak cukupkah perhatian Allah bagimu?
Berlomba-lombalah untuk sebuah penilaian Allah, bukan penilaian manusia.

Jika yang kau cari ridho Allah, maka pakailah pakaian takwa. Curilah perhatian Rabb mu dengan hijab yang sempurna. Buatlah Allah mencintaimu dengan ketaatan yang kau punya.
Dekatilah Rabb mu dengan menjalankan seluruh perintahNya dan jauhi sejauh-jauhnya laranganNya.
Adakah yang lebih baik dari Ridho Allah? Adakah?

Selagi sempat, selagi sehat, mari perbaiki diri.
Dalam suatu hadits qudsi Allah berfirman :
Jikalau seorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta.
Jikalau ia mendekat padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa.
Jikalau hamba itu mendatangi Aku berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas. (HR.bukhari)

Ketika Sombong Menjadi Alasan

Orang yang paling sombong adalah orang yang ketika di antarkan pada pintu hidayah ia ENGGAN untuk masuk. Ketika diberikan cahaya ia ENGGAN membuka jendela.
 
Mengapa?
Apakah hati itu memBATU?
Lunakkan hatimu dengan membaca surat cinta RABBmu.

Betapa ALLAH menyayangimu namun mengapa kau ENGGAN??

Ukhti, saudariku, perempuan, wanita, cewek, mengapa kau ENGGAN ketika kurangkul untuk menutup aurat?
Apa yang membuat kau RAGU?
Apakah tak ingin kau ikuti FIRMAN TUHANmu?
Bukankah kau mencintai-NYA?
Lalu mengapa kau tak mau mengikuti kesukaan-NYA??

Mari, mari, mari kita melangkah belajar bersama menjadi hamba-NYA?
Apalagi yang kau harapkan dari dunia?Apa yang akan kau katakan jika berjumpa dengan-NYA kelak?
Tak mau kah kau diperlakukan bak bidadari di syurga-NYA?
Apakah surga fana di dunia mampu menandingi syurga-NYA??

Ohhh sobat, saudari, ukhti, perempuan, wanita, cewek, apapun kau biasa dipanggil. Mari-mari jangan menjauh. salam ukhwah