Wednesday, July 31, 2013

Definisi Iblis,Jin,dan Syaitan

Assalamu'alaykum Warrahmatullah Wabarakatuh ..... Kali ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Definisi Iblis,Jin dan Syaitan berdasarkan Ayat - Ayat Al Qur'an dan sedikit Logika. Pasti sobat muslim sering denger kata "Iblis" .Sebenarnya siapa itu Iblis? darimana asalnya? nah disini kita ungkap semua nya sampai tuntas, Tapi Kebenarannya hanya milik Allah, kita hanya bisa berusaha untuk mengetahui. jadi bagi yang berbeda pendapat silahkan isi komentar di bawah ya


Apa itu Jin??

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz Dzaariyaat, 56.)

Ya pertama mari kita telusuri dari awal penciptaan Nabi Adam 'Alayhissalam. Dijelaskan pada Al Qur'an tepatnya pada Surah Al Hjr Ayat 27, Bahwa Penciptaan Bangsa Jin lebih dahulu dari pada diciptakannya Manusia ( Adam ) oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Dimana bunyi ayat tersebut sebagai berikut.

"Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (Al Hijr, 27.)
dan pada Ayat lainnya disebutkan pula sebagai berikut :

" 'Sujudlah kamu kepada Adam', maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim. (Al Kahfi, 50)

Dari ayat diatas diketahui bahwasanya Jin bukanlah nama untuk sesosok ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala, melainkan sebangsa Golongan, jadi tingkatan Jin itu bisa dibilang seperti Manusia, kalo dalam biologi disebut Genus. 

Bangsa Jin diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dari Api, Sebagaimana diceritakan dalam Al Qur'an dan Sabda Rasul.
"Dan Dia menciptakan jin dari nyala api." (Ar-Rahman: 15)
"Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian." (HR. Muslim no. 2996 dari ’Aisyah x)

Kesimpulannya : Jin adalah sebuah Bangsa / Golongan dari Makhluk Allah yang diciptakan agar Menyembah Allah Subhanahu wa ta'ala

Siapa itu Iblis??



Setelah tau apa itu Jin sekarang saatnya kita tahu siapa itu Iblis. Dari beberapa ayat mengenai Iblis tadi, sempat kita baca Ada kata baru yaitu Iblis,tepatnya pada Surah Al Kahfi ayat 50. Jadi sebenarnya Iblis itu adalah Makhluk dari Bangsa Jin yang Durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala, dan Iblis ini adalah induk dari semua Jin yang Durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala . Jin pula yang telah menghasut Nabi Adam 'Alayhissalam dan Siti Hawa untuk memakan buah Khuldi sehingga mereka diusir dari SurgaAllah Subhanahu wa ta'ala, Berikut beberapa Kisah tentang Iblis :

Allah berfirman : "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?"
Menjawab iblis : "Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".
Allah berfirman : "Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina".(Al A'raaf, 12, 13)
Iblis menjawab : "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan".
Allah berfirman : "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."
Iblis menjawab : "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
Allah berfirman : "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya".
(Dan Allah berfirman) : "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim".

Maka Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan Syaitan berkata : "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)".

Dan dia (Syaitan) bersumpah kepada keduanya . "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua", maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.

Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka : "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu : "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" ( Al A'raaf, 11-22)

Manusia adalah mahluk yang tinggal di bumi dan dapat terlihat oleh mata, Jadi, yang harus difahami bahwa iblis adalah golongan jin, maksudnya iblis adalah golongan mahluk bumi yang tidak dapat dilihat oleh mata seperti keterangan dibawah ini :

"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh Syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan Syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.(Surat Al A’raaf, 27)

Ayat di atas menjelaskan tentang :
  1. Himbauan Allah kepada manusia supaya tidak mudah tertipu daya Syaitan.
  2. Syaitan dapat melihat manusia tetapi manusia tidak dapat melihat setan.
Kesimpulannya : Iblis adalah Makhluk dari Bangsa Jin yang Durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala karena tidak menaati perintahnya untuk sujud kepada Nabi Adam 'Alayhissalam. Iblis juga adalah Nenek Moyang dari Jin-Jin Durhaka. Iblis juga yang berjanji untuk menghasut dan menggoda Keturunan Adam (Manusia) agar durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala dan tidak akan berhenti hingga Akhir Zaman. Diketahui juga induk dari segala Jin Durhaka ini, Atau disebut Iblis ini tidak akan mati hingga Akhir Zaman, dan pada Akhir Zaman nanti Iblis akan Menangis disaat Sakaratul Mautnya.

Pertanyaannya adalah mengapa ada nama baru dalam kisah ini yaitu Syaitan?


Apa itu Syaitan

Setelah tau apa itu Jin dan Iblis saatnya kita tahu apa sih sebenernya Syaitan itu?? Jadi sebenarnya Syaitan itu adalah Sifat Jahat,Durhaka Terhadap Allah, baik dari Bangsa Jin,Manusia atau yang lain.Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa ta'ala :

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu Syaitan-Syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)." (Al-An’am: 112)


Nah akhirnya kita tahu kan??? jadi Kesimpulannya Syaitan itu adalah semua golongan/jenis Makhluk Ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala yang telah durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala. Jadi Manusia juga bisa disebut Syaitan loh... hayoo Siapa yang mau disebutin Syaitan?? heehehe,,Naudzubillahimindalik

Berikut ini Kesimpulan dari posting saya kali ini .

Kesimpulan

  • Jin adalah sebuah Bangsa / Golongan dari Makhluk Allah yang diciptakan agar Menyembah Allah Subhanahu wa ta'ala, Dan dari golongan ini ada yang taat dan ada yang durhaka
  • Iblis adalah salah satu makhluk dari bangsa jin yang Durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala karena tidak menaati perintahnya untuk sujud kepada Nabi Adam 'Alayhissalam. Iblis juga adalah Nenek Moyang dari Jin-Jin Durhaka yang lainIbli berjanji untuk menghasut dan menggoda keturunan Adam (Manusia) agar durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala dan tidak akan berhenti hingga Akhir Zaman. Diketahui Iblis ini tidak akan mati hingga Akhir Zaman, dan pada Akhir Zaman nanti Iblis akan Menangis disaat Sakaratul Mautnya.
  • Syaitan itu adalah semua golongan / jenis Makhluk Ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala yang telah durhaka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala. Baik dari golongan Manusia,Jin, dan yang lain
Semoga Bermanfaat.
Sumber : http://islamtogether.blogspot.com/2012/07/definisi-iblisjindan-syaitan.html?m=1

Surah Al-Fatihah dan Keutamaannya

Assalamu'alaykum Warrahmatullah Wabarakatuh ..... Berhubung Surah Pertama Dalam Al Quran adalah Surah Al-Fatihah jadi saya ingin sedikit berbagi ilmu tentang surah ini, pernahkah terlintas di benak sobat muslim mengapa Surah Al-Fatihah lah yang menjadi pembuka "Al-Huda"?? Lantas marilah kita simak apa yang Keutamaan-keutamaan yang menjadikan Surah Al-Fatihah sebagai Ummul Kitab.Surah Al-Fatihah (Arab: الفاتح , al-Fātihah, "Pembukaan") adalah surah pertama dalam al-Qur'an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat.Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al-Qur'an.



Bunyi surah Al Fatihah oleh Al-Sudais





Surah Al-Fatihah yang juga disebut sebagai "Ummul Kitab" memiliki beberapa keutamaan sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam.
  1. Surah Al-Fatihah merupakan surah yang paling utama di dalam Al-Qur`an. 
  2. Merupakan surah yang tidak pernah diturunkan dalam Taurat dan Injil, dan tidak ada satu pun yang menyamai surah Al-Fatihah di dalam Al-Qur`an.
  3. Merupakan surah yang langsung diturunkan dari Arsy. 
  4. Sebagai obat penawar, baik lahir maupun batin.
Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran. Dinamakan Ummul Qur’an (induk Al-Quran/أمّ القرءان) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab/أمّ الكتاب) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran. Dinamakan pula As Sab’ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang/السبع المثاني) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat.

Surah Al-Fatihah terdiri dari tujuh. ayat, masing-masing ayat memiliki keistimewaan, makna, dan pengejawantahan bagi. kita dalam kehidupan riil. Misalnya, ayat pertama, satu kata Allah saja dari rangkaian kalimat. bismillaahir rahmaanir rahiim, memiliki makna sangat mendalam dan luas.

Keimanan
Pada ayat 2 surah ini dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. 

Nikmat yang dimaksud pada kalimat diatas antara lain : Nikmat menciptakan, Nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rabb (ربّ) dalam kalimat Rabbul-'aalamiin (ربّ العالمين) tidak hanya berarti Tuhan atau Penguasa, tetapi juga mengandung arti tarbiyah (التربية) yaitu mendidik dan menumbuhkan.

Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan Penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka di dalam surat Al-Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin / إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين (hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan).

Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.Yang dimaksud dengan Yang Menguasai Hari Pembalasan ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Ibadat yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah.

Keutamaan Surah Al Fatihah yang lain adalah, Surah ini wajib dibaca bilamana seseorang melakukan shalat.Apabila seseorang tidak membaca Surah ini maka shalatnya tidak sah,  sebagaimana yang diriwayatka.

"Setiap Shalat tanpa bacaan Fatihah, maka shalat tersebut tidak sempurna.” (HR Muslim “Bab Shalat” 397).
Hadist lain berbunyi,

“Tidak diterima shalat seseorang tanpa membaca Al-Fatihah.” (HR Bukhari “Bab Adzan” 756, Muslim “Bab Shalat” 394)

Walau begitu, hal tersebut tidak berlaku bagi orang yang tidak hafal Al-Fatihah. Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang tidak hafal Al-Fatihah diperintahkan membaca :

"Maha Suci Allah, segala puji milik Allah, tidak ada tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah."
Dalam pelaksanaan salat, Al-Fatihah dibaca setelah pembacaan Doa Iftitah dan dilanjutkan dengan "Amin" dan kemudian membaca ayat atau surah al-Qur'an (pada rakaa'at tertentu). Al-Fatihah yang dibaca pada rakaat pertama dan kedua dalam salat, harus diiringi dengan ayat atau surah lain al-Qur'an. Sedangkan pada rakaat ketiga hingga keempat, hanya Al-Fatihah saja yang dibaca.

Dan dibawah ini adalah beberapa nama lain dari Surah Al Fatihah :
  • Al-Kitab (buku) : Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah [2]:2)
  • Al-Furqan (pembeda benar salah) : Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al Furqaan [25]:1)
  • Adz-Dzikr (pemberi peringatan) : Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr [15]:9)
  • Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat) : Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)
  • Asy-Syifa' (obat/penyembuh) : Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)
  • Al-Hukm (peraturan/hukum)
  • Al-Hikmah (kebijaksanaan)
  • Al-Huda (petunjuk)
  • At-Tanzil (yang diturunkan)
  • Ar-Rahmat (karunia)
  • Ar-Ruh (ruh)
  • Al-Bayan (penerang)
  • Al-Kalam (ucapan/firman)
  • Al-Busyra (kabar gembira)
  • An-Nur (cahaya)
  • Al-Basha'ir (pedoman)
  • Al-Balagh (penyampaian/kabar)
  • Al-Qaul (perkataan/ucapan)
Semoga bermanfaat.
Sumber : http://islamtogether.blogspot.com/2012/07/surah-al-fatihah-dan-keutamaannya.html?m=1

Friday, July 19, 2013

Mendekati Al-Qur'an

Ramadhan, bulan berlimpah kebaikan dan keberkahan. Bulan untuk kita ketam pahala dan anugerah-Nya. Tidak ada yang terlewati dari bulan suci ini kecuali semuanya merasakan kedamaian, ketenangan dan kebahagian.

Di antara amalan yang akan mengundang kebaikan dan berpahala besar adalah mendekati dan membaca Alquran. Atau istilah yang lazim kita dengar dan akrab di bulan Ramadhan adalah tadarus Quran.

Inilah amalan yang tersirat dalam Alquran sebagai amalan yang mengundang keberkahan dan sekaligus mendesain Ramadhan kita menjadi terbaik (QS Al-Baqarah, 2: 185).


Mendekati Alquran berarti membaca, merenungkan, menelaah, dan memahami wahyu-wahyu-Nya. Di bulan inilah Alquran menemukan momentumnya.

Syiarnya sangat berasa dan khas. Di hampir pengeras-pengeras suara mushala atau masjid di negeri ini, Alquran didengungkan.

Orang tua, ibu-ibu, bapak-bapak, remaja dan anak-anak berhimpun bersama, memandangi mushaf, membaca, mempelajari dan mengkajinya.  

Tidak perlu merasa aneh, karena aktivitas tadarus Quran memang sudah melegenda dan turun temurun. Di bulan inilah, Malaikat Jibril turun ke planet bumi untuk menyimak bacaan Alquran Rasulullah.

Utsman bin Affan biasa mengkhatamkan Alquran setiap hari sekali. Imam Syafii mengkhatamkan Alquran sebanyak enam puluh kali.
Al-Aswad setiap dua hari sekali, Qatadah setiap tiga hari sekali atau di tiap malam pada sepuluh malam akhir bulan Ramadhan. Subhanallah.

Terkait larangan Nabi Saw. mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari, Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, itu berlaku di luar Ramadhan. Sementara di bulan Ramadhan apalagi di sepuluh akhir Ramadhan justru menjadi amalan utama.

Alquran disebut sebagai Ma`dubatullah (hidangan Allah SWT.), sebagaimana sabda Rasulullah Saw., "Sesungguhnya Al-Quran ini adalah hidangan Allah, maka kalian terimalah hidangan-Nya itu semampu kalian." (HR. Hakim)

Sungguh, Alquran merupakan suatu hidangan yang tidak pernah membosankan. Semakin dinikmati, semakin bertambah pula kenikmatannya.

Oleh karena itu, setiap orang yang mempercayai Alquran akan semakin bertambah cinta kepadanya, cinta untuk mendekati dan membacanya, mempelajarinya, menghafalkannya, memahaminya, mengamalkannya, dan mengajarkannya.
 
Sumber :  http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/07/19/mq6hhi-mendekati-alquran

Monday, July 8, 2013

Risalah Ramadhan

Bulan Ramadhan memiliki keistimewaan di banding bulan-bulan yang lain, di antaranya:

- Pada bulan Ramadhan, Al Qur’an diturunkan (lih. Al Baqarah: 185).
- Pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu (HR. Bukhari)
- Di bulan itu ada malaikat yang menyeru, “Wahai orang yang menginginkan kebaikan, bergembiralah!. Wahai orang yang menginginkan keburukan, berhentilah!.” (HR. Ahmad dan Nasa’i, sanadnya jayyid)
- Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari)
- Amal saleh di bulan Ramadhan dilipatgandakan pahalanya. Contohnya berumrah di bulan Ramadhan sana seperti berhajji bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak kesturi (HR. Bukhari)
- Di bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadr (lih. Surat Al Qadr).
- Dan keutamaan lainnya yang begitu banyak.

Amalan yang disyari’atkan di bulan Ramadhan

Di bulan Ramadhan ada beberapa amalan yang disyari’atkan, di antara amalan itu ada yang wajib dan ada yang sunat. Berikut amalan tersebut:

- Berpuasa,
Dalam hadits Qudsiy Allah berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amal anak Adam untuknya selain puasa, puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan keutamaan puasa di banding amalan yang lain dan besarnya pahala yang akan Allah berikan kepada orang yang berpuasa, karena Dia yang akan membalasnya.

- Shalat Tarawih
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari)
Lebih utama lagi jika dilakukan berjama’ah bersama imam hingga selesai, karena akan dicatat untuknya pahala melakukan shalat semalaman suntuk.

- Bersedekah
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan Beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, bahkan melebihi angin yang berhembus. Hal ini menunjukkan bahwa sepatutnya kita lebih sungguh-sungguh lagi beribadah dan beramal saleh khususnya di waktu-waktu yang penuh keberkahan seperti di bulan Ramadhan. Termasuk bersedekah di bulan Ramadhan adalah memberikan makanan untuk berbuka orang yang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِماً كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُنْقَصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

“Barang siapa memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang berpuasa itu tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad, Nasa’i dan dishahihkan oleh Al Albani)

- Memperbanyak membaca Al Qur’an
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلصِّيَامُ وَاْلقُرْآنُ يُشَفَّعَان لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ  يَقُوْلُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهْوَةِ ، فَشَفِّعْنِي فِيْهِ ، وَيَقُوْلُ اْلقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِالَّليْلِ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ ، قَالَ : فَيُشَفَّعَانِ

Puasa dan Al Qur’an akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat, puasa akan berkata, “Ya Rabbi, aku mencegah dirinya untuk makan dan mencegah syahwatnya, maka berikanlah aku izin memberikan syafa’at untuknya”, sedangkan Al Qur’an berkata, “Aku telah mencegahnya tidur di malam hari, maka berikanlah aku izin memberikan syafa’at untuknya”, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” (HR.Ahmad dan Thabrani, dishahihkan  oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ 3882)

- Duduk berdiam di masjid setelah shalat Shubuh sampai terbit matahari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ، تَامَّةً تَامَّةً تَامَّةً
 “
“Barang siapa shalat Subuh berjama’ah, lalu duduk berdzikr mengingat Allah sampai matahari terbit. Setelah itu ia shalat dua rak’at (shalat Isyraq), maka ia akan mendapatkan pahala seperti satu kali hajji dan umrah secara sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani)

Shalat Isyraq dikerjakan pada waktu dhuha di bagian awalnya ketika matahari terbit setinggi satu tombak (jarak antara terbit matahari/syuruq dengan setinggi satu tombak kira-kira ¼ jam).

- Beri’tikaf
Setelah hari-hari biasanya kita sibuk terhadap urusan dunia, kita diminta hanya sebentar untuk menyibukkan diri dengan akhirat (fokus kepada akhirat), yaitu dengan beri’tikaf.
I’tikaf artinya menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf sepuluh hari di bulan Ramadhan, namun pada tahun wafatnya Beliau, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari. (sebagaimana dalam riwayat Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Majah). I’tikaf ini hukumnya sunat, dan menjadi wajib jika dinadzarkan oleh seseorang.
I’tikaf lebih utama dilakukan di sepuluh terakhir bulan Ramadhan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktunya dimulai dari setelah shalat Subuh hari pertama dan berakhir sampai matahari tenggelam akhir bulan Ramadhan.
I’tikaf terlaksana dengan seseorang tinggal di masjid dengan niat beri’tikaf baik lama atau hanya sebentar, dan ia akan mendapatkan pahala selama berada di dalam masjid.
Bagi yang beri’tikaf  boleh memutuskan atau membatalkan i’tikafnya kapan saja ia mau, jika ia sudah keluar dari masjid lalu ia hendak beri’tikaf lagi, maka ia pasang niat lagi untuk beri’tikaf.
I’tikaf tidak batal ketika seseorang keluar dari masjid karena terpaksa harus keluar (seperti ingin buang air, makan dan minum bila tidak ada yang mengantarkan makan untuknya, pergi berobat, mandi dsb).
I’tikaf menjadi batal jika seseorang keluar dari masjid tanpa suatu keperluan serta melakukan jima’.
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata, “Sunnahnya bagi yang beri’tikaf adalah tidak menjenguk orang yang sakit, tidak menyentuh istri, memeluknya, tidak keluar kecuali jika diperlukan, dan i’tikaf hanya bisa dilakukan dalam keadaan puasa, juga tidak dilakukan kecuali di masjid jaami’ (masjid yang di situ ditegakkan shalat  Jum’at dan jama’ah).”

Amalan yang dilakukan ketika I’tikaf

Hendaknya orang yang beri’tikaf memanfa’atkan waktunya yang ada dengan sebaik-baiknya, seperti memperbanyak dzikr (baik yang mutlak maupun yang muqayyad), membaca Al Qur’an, mengerjakan shalat-shalat sunnah dan amalan sunat lainnya serta memperbanyak tafakkur tentang keadaannya yang telah lalu, hari ini dan yang akan datang juga merenungi hakikat hidup di dunia. Ia pun hendaknya menghindari perbuatan yang sia-sia seperti banyak bercanda, ngobrol dsb.

-  Mencari malam Lailatul Qadr
Hendaknya seorang yang beri’tikaf mencari malam lailatul qadr dalam I’tikafnya di malam-malam yang ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan –Meskipun mencari Lailatul qadr tidak harus beri’tikaf–. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mencari Lailatul Qadr dan memerintahkan para sahabat untuk mencarinya. Lailatul qadr tidak terjadi pada malam tertentu dalam setiap tahunnya, namun berubah-rubah, mungkin pada tahun ini malam ke 27, pada tahun depan malam ke 29 dsb, dan sangat diharapkan terjadi pada malam ke 27.
Mungkin hikmah mengapa malam Lailatul qadr disembunyikan oleh Allah Ta’ala adalah agar diketahui siapa yang sungguh-sungguh beribadah dan siapa yang bermalas-malasan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang melakukan shalat tarawih bertepatan dengan malam Lailatul qadr karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Doa ketika mengetahui lailatul qadr adalah,
اَللّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pema’af, maka ma’afkanlah aku.” (HR. Imam Ahmad dan Penyusun Kitab Sunan, kecuali Abu Dawud. Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.”)
- Berumrah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً
“Berumrah di bulan Ramadhan sama seperti hajji.” (HR. Bukhari dan Muslim)

- Memperbanyak membaca Al Qur’an, berdzikr dan berdoa

Siang dan malam bulan Ramadhan adalah saat-saat utama beramal shalih, maka manfaatkanlah dengan banyak membaca Al Qur’an, berdzikr dan berdoa.

- Menjauhi maksiat.
Seorang muslim harus menjauhi maksiat, apalagi di bulan Ramadhan seperti ghibah (gosip), namimah (mengadu domba), berdusta, memakai cincin emas bagi laki-laki, melihat hal-hal yang haram dilihat, mendengarkan musik, menyakiti kaum muslimin baik dengan lisan maupun dengan perbuatan, menggambar makhluk bernyawa, bersumpah dengan nama selain Allah, bertasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, merokok, isbal (melabuhkan kain melewati mata kaki), riya’, mencukur janggut, memakan riba, bekerja di bank-bank ribawi, mengasuransikan jiwa dan harta (asuransi konvensional), memberikan persaksian dusta, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لمَ ْيَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْس ِللهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak mau meninggalkan kata-kata dusta dan beramal dengannya, maka Allah tidak lagi butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Ia pun harus menjauhi mencaci-maki orang lain dan menjauhi maksiat lainnya baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, melakukan penipuan (ghisy), durhaka kepada kedua orang tua, memutuskan tali silaturrahim, hasad (dengki), menyia-nyiakan shalat dan lainnya.
Dan bagi wanita haram melepas jilbab, bertabarruj (bersolek kepada yang bukan suaminya) dan memakai wewangian ketika keluar dari rumah.

Malu Mengenakan Busana Muslim

Pertanyaan:
Ada sebagian orang yang ketika bertandang ke luar negeri, lalu merasa tertekan dan malu bila mengenakan busana yang menunjukkan keislamannya. Apa saran Anda, wahai Syeikh?

Jawaban:
Memang benar perihal yang dikatakan oleh penanya, dan ini sungguh ironis. Kendati kita memang orang-orang yang tinggi derajatnya, namun kita dapati adanya kelemahan kepribadian, dan realitanya kita merasakan bahwa kita hanyalah pengekor dan pengikut mereka.
Ada sebagian orang di antara kita, ketika melihat sesuatu yang bermanfaat tidak mengaitkannya kepada dirinya dan tidak pula kepada kaum muslimin lainnya, namun mengatakan, “Ini merupakan peradaban barat atau timur,” dan ia tidak merasa bangga dengan kepribadiannya di hadapan arus kerusakan mereka.
Padahal, ketika mereka datang ke negara kita dengan pakaian mereka yang memalukan, terbuka dan vulgar, bahkan para wanita mereka ketika berada di negara-negara kaum muslimin berpakaian setengah pahanya terbuka, lehernya terbuka, betisnya terbuka dan berjalan berlenggak-lenggok dengan kedua kakinya, seolah-olah menghentakkan bumi dari bawah dan tidak peduli bahwa dirinya adalah seorang wanita.
Lalu, bagaimana dengan kaum laki-laki muslim? Kenapa mesti malu berjalan dengan mengenakan busana muslim yang tertutup di negara mereka? Bukankah ini bukti nyata yang menunjukkan lemahnya kepribadian?
Jawabannya, tentu saja jika kita memperlakukan mereka dengan cara serupa berarti kita telah memperlakukan mereka dengan adil. Saat mereka datang ke negara kita dengan pakaian mereka tanpa mempedulikan perasaan kita, kenapa kita tidab bisa datang bertandang ke negara mereka dengan mengenakan busana khas kita dan tidak mempedulikan perasaan mereka.
Ada seseorang yang saya percaya bercerita kepada saya, kini ia telah menghuni kuburan, ia mengatakan, bahwa ketika ia berkunjung ke suatu ibu kota negara barat dengan mengenakan busana islami khas negaranya, ia mengatakan, “Saya dapati mereka lebih banyak menghormati, bahkan mereka bersegera membukakan pintu mobil saat saya hendak naik.”
Lihat, bagaimana seseorang merasa bangga karena telah dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, jika kita merendahkan diri di hadapan mereka, tentunya ini bukan sikap seorang muslim.
Jika Anda melihat ulang sejarah dan perilaku para mujahidin, serta muslimin terhadap musuh-musuh mereka dalam peperangan, tentu akan anda dapatkan, betapa bangganya kaum muslimin di hadapan para musuhnya.
Kemudian, seharusnya seorang muslim memelihara kehormatannya, yaitu dengan tidak menganggap cara hidup mereka yang memalukan itu sebagai peradaban, tapi yang benar adalah kehinaan, bukannya peradaban karena yang demikian itu mengarah kepada kerusakan moral dan kekejian bahkan kekufuran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demi Allah, tidak benar kita menyebutnya sebagai peradaban, bagaimana jadinya? Peradaban yang sesungguhnya adalah kemajuan yang bermanfaat, yaitu dengan berpegang teguh dengan agama Islam dan moralnya. Kenapa kita memberi mereka harga yang murah? Agar kita katakan bahwa kalian adalah penyandang peradaban dan kita adalah penyandang keterbelakangan, padahal seharusnya kita maju dengan keislaman kita, baik secara akidah, perbuatan, maupun manhaj, agar peradaban kita masuk kepada mereka.
Bukankah kejujuran termasuk peradaban? Jawabannya, benar. Itu terdapat dalam Islam, dan Islam telah menganjurkannya, sebagaimana Firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَ إِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيْقًا، وَ إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُوْرِ وَ إِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا
“Sesungguhya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan ke surga, dan sungguh seseorang senantiasa berlaku jujur hingga dicatat sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan itu menunjukkan ke neraka, dan sungguh seseorang senantiasa berdusta sehingga dicatat sebagai pendusta.” (HR. Al-Bukhari)
Namun sayangnya, banyak kaum muslimin yang telah kehilangan kejujuran, sehingga kita belum mencerminkan Islam dengan porsi yang besar dalam segi ini.
Jujur dan terus terang dalam pergaulan telah diajarkan oleh Islam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلْبَيْعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَ بَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا وَ إِنْ كَذَبَا وَ كَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Dua orang yang saling berjual-beli tetap memiliki hak pilih selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan saling berterus terang, maka keberkahan dilimpahkan bagi mereka pada jual beli mereka. Namun, jika keduanya saling berdusta dan saling menutupi, maka keberkahan akan dicabut dari jual-beli mereka.” (HR. Al-Bukhari)
Apakah kejujuran dan keterusterangan ini telah terealisasi pada setiap muslim? Jawabnya, tidak, bahkan itu telah sirna dari sebagian kaum Muslimin, karena ada sebagian kaum muslimin yang tidak jujur dan enggan berterus terang. Bahkan, ada yang mengatakan, “Barang ini harganya seratus riyal,” padahal sebenarnya hanya lima puluh riyal. Bukankah ini merupakan kedustaan dan penipuan? Padahal Islam telah melarang ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa yang menipu kami, ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berlepas diri dari yang demikian. Meskipun begitu, sebagian kaum muslimin melakukan penipuan, na’udzu billah. Bila kita amati pula sekitar kita, akan kita dapati kondisi yang memalukan. Anda akan dapati bahwa ajaran-ajaran Islam yang telah memerintahkan untuk berlaku jujur, terus terang, lembut dan halus, telah sirna dari sebagian kita, bahkan kondisi yang kebalikannya yang banyak terdapat pada sebagian kita. Karena itu, bisa kita katakan bahwa sebagian kaum muslimin telah lari dari Islam dengan perilaku yang ebrtolak belakang dengan Islam. (Fatawa al-Aqidah, hlm. 787–789, Syekh Ibnu Utsaimin)
Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, Darul Haq, Cetakan V, 2008.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

Sunday, July 7, 2013

6 FAKTA Mengapa BABI Diharamkan Dalam Islam

  1. Apakah anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di leher? karena mereka tidak memiliki leher. sesuai dengan anatomi alamiahnya? Bagi orang muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan memiliki leher.
  2. Konsumen daging babi sering mengeluhkan bau pesing pada daging babi (menurut penelitian ilmiah, hal tersebut disebabkan karena praeputium babi sering bocor, sehingga urine babi merembes ke daging)
  3. Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia melahap semua makanan yang ada di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada tersisa.
  4. Kadang ia mengencingi kotorannya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali. Ia memakan sampah busuk dan kotoran hewan. Babi adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama jika dibiarkan. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
  5. Penyakit-penyakit cacing pita merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang dapat terjadi karena mengonsumsi daging babi. Cacing berkembang di bagian usus 12 jari di tubuh manusia, dan beberapa bulan cacing itu akan menjadi dewasa. Jumlah cacing pita bisa mencapai sekitar ”1000 ekor dengan panjang antara 4 – 10 meter”, dan terus hidup di tubuh manusia dan mengeluarkan telurnya melalui BAB (buang air besar).
  6. Daging babi merupakan penyebab utama kanker anus & kolon”. Persentase penderita penyakit ini di negara negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis, terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000.
Sumber : http://dakwahmakassar.wordpress.com/2012/12/18/6-fakta-mengapa-babi-diharamkan-dalam-islam/

Kisah Ajaib Seputar Istighfar


 

Imam al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dari Ibnu Subaih rahimahullah, bahwasanya dia berkata, “Ada seorang yang mengadu musim paceklik kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, Hasan al-Bashrirahimahullah berkata, ‘Istighfarlah engkau kepada Allah.’ Ada lagi yang mengadu bahwa dia miskin, Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Mintalah ampun kepada Allah.’ Lain lagi orang yang ketiga, ia berkata, ‘Doakanlah saya agar dikaruniai anak.’ Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Mintalah ampunan kepada Allah.’ Kemudian ada juga yang mengadu bahwa kebunnya kering. Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Mohonlah ampun kepada Allah.’
Melihat hal itu, Rabii’ bin Subaih bertanya, ‘Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?’ Hasan al-Bashri rahimahullah menjawab, ‘Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam firman-Nya (yang artinya),
Maka, Aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah amounan kepada Rabb-mu, -seseunnguhnya dia adalah Maha Pengampun-, niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’” (QS. Nuh [71]: 10-12)
Penulis: Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman hafizhahullah
Artikel www.KisahMuslim.com
Disarikan dari artikel berjudul “Ya Alloh…, Ampunilah Aku” dalam Majalah
Al-Furqon, Edisi 12 Tahun Ke-9 1431/2010
Sumber : http://dakwahmakassar.wordpress.com/2013/01/07/kisah-ajaib-seputar-istighfar/