Tuesday, December 31, 2013

Airmata ini

Aku lupa.
Bagaimana rasanya tersenyum.
Bagaimana rasanya tertawa.
Bagaimana rasanya gembira.

Aku terlalu lupa.
Karna yang ku ingat, hanyalah cara menangis.
Meneteskan setiap butir airmata.
Menahan pedihnya rasa didada.

Aku terlalu lupa.
Sungguh aku lupa.
Tak ada yang bisa ku ingat.
Kecuali, membendung setiap tangis yang meremas luka dihati.

Orang mungkin sering melihatku tampil kuat dengan setiap senyuman.
Orang mungkin sering melihatku hebat dengan gelak tawa.
Orang mungkin sering melihatku bangga dengan kegembiraan.

Tapi itu hanya topeng belaka.
Sunggu aku bukanlah orang yang seperti mereka lihat.

Aku sungguh terlalu lemah.
Kadang airmata dan harapan menjadi teman paling setia.
Aku terlalu lemah.
Dan begitu banyak keluhan.

Kadang, aku tak bisa bangkit.
Namun Allah selalu menjadi tempat curahanku.
Ya. Saat yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing.

Saat malam yang larut menemani.
Aku berbaring ditempat tidur mini yang empuk dan berpeluk pada bantal mungil yang menjadi saksi tiap tetes mata yang setiap malam membasahi.

Hati mulai merintih.
Tak ada rasa bahagia yang membekas kecuali setiap tangis yang ku ingat.

Rintihku hanya "Aku tak bisa menaruh harapan pada setiap manusia kecuali Allah. Yang tak pernah memberiku harapan palsu, yang menyakitiku dan menekangku".

Aku selalu berusaha untuk tidak tidur dengan airmata lagi.
Namun hasilnya, tak ada setiap malam yang ku lewati tanpa tangis.

Sunday, December 22, 2013

Ketakutanku

Setiap kali detak jantung berdegup, kadang ada pemikiran yang sekejap terlintas yang membuatku meneteskan airmata dengan sangat deras sehingga membasahi pipiku.
Takut. Gemetar dan mengguncang.
Apa ini?
Apa yang terjadi?
Tiba-tiba aku menangis dan membayangkan bagaimana seramnya ketika aku hidup sendirian. Ditempat sempit nan gelap. Dan tanpa oksigen.
Ya. Pikiranku tertuju pada "Kematian".
Aku tahu. Kematian pasti akan datang menghampiri setiap insan.
Siap atau tidak siap semua akan mengalami yang namanya "Kematian".
Ketakutan pasti ada.
Namun bukan mati yang harus ditakutkan. Melainkan perjalanan setelah itu.
Cukupkah bekalku?
Mungkin rajinnya kita beribadah bukan jaminan kita langsung masuk ke dalam Jannah-Nya.
Mungkin saja, selama ini kita rajin dalam beribadah namun amalan kita bagaikan kapas yang ditimbang namun tanpa berat sebab ditiup angin.
Mungkin banyak yang bertanya kenapa demikian?
Alasannya mungkin karna ibadah kita semata-mata bukan karna Allah melainkan ingin mendapat simpati dari manusia lainnya.
Nauzubillah.
Selain itu begitu banyak hal yang ku takutkan.
Jika malam ini, hari ini dan detik ini aku tidur. Dan besok tak diizinkan lagi untuk memperbaiki diri, betapa celakanya aku yang selama diberi kesempatan sering lalai untuk mengunakanya. Celakanya aku yang hanya memanfaatkan waktu luang dengan kemaksiatan. Berjalan dengan bangganya diatas jalan yang nyatanya menyesatkan.
Mungkin aku masih muda. Namun muda bukan berarti waktuku panjang. Dan taubat akan ku hampiri saat diriku tua kelak.
Tak ada kata mati diusia tua saja.
Muda pun bisa. Entah mati dengan alasan sakit, kecelakaan atau bencana.
Betapa aku menyadari. Mati itu takdir dan penyebab hanyalah sebuah alasan belaka.
Aku sungguh heran diselimuti ketakutan. Kadang merasa bangga untuk berbuat dosa dan menyesal setelah ujian menyapa. Beginikah manusia? Yang hanya mengingat Tuhan-nya saat duka menyelimuti dirinya sedang ketika kesenangan menyelimuti, manusia malah lupa jika semua ini atas campur tangan Tuhan-nya. Ya Allah maafkan aku, yang selalu bertingkah munafik didepan-Mu. Bersandiwara seakan-akan aku lupa bahwa Kau senantiasa merekam semua aktivitasku. Astaghfirullah~
Aku sadar.
Mungkin malam ini, aku sedang tertawa dengan dikelilingi orang-orang disekitarku. Namun siapa sangkah? Ternyata keesokkan harinya aku tengah dikelilingi oleh orang-orang yang sedang menangisi jenazahku.
Laa Hawla Wa Laa Quata Illah billah.

Friday, December 6, 2013

The true love

Bukan indah namanya jika selepas hujan tidak ada pelangi.

Bukan manis namanya jika si bulan tidak ditemani bintangnya.

Bukan rasa namanya jika selepas duka tak ada senyuman.

Dan bukan cinta namanya jika aku dan kamu tidak bersama cinta-Nya.

Sungguh;
Semuanya telah Allah tetapkan masing masing pasanganya. Jadi kita tidak perlu kawatir lagi untuk tidak kebagian pasangan dan memilih alasan pacaran sebagai jalan memilih pasangan.

Jangan tergiur  dengan gemerlapnya cinta yang haram.
Sungguh penyesalan datang pada saat diri kita hancur karena padamnya gemerlap cinta yang mendusta. Yaitu yang haram. Maka dari itu sediakanlah payung sebelum hujan.

Halalkan cintamu.

Sungguh;
Cinta yang Halal itu indah, diridhai-Nya dan Syurga sebagai tempat yang dijanjikan untuk kita.

Dan sungguh;
Cinta yang seindah-indahnya adalah saat cinta kita karena Allah. Saat cinta kita untuk mendekatkan diri kita pada Allah. Dan saat cinta kita demi meraih ridha Allah.

Maka dari itu;
Pantaskan diri. Halalkan cinta. Berpegang tangan dan melangkah bersama meraih ridha dan syurga-Nya.

Semoga istiqomah.

By; Lutfiah Al-Mubarak