Sunday, April 20, 2014

Hidayah-Nya

Dalam terang cahaya Hidayah-Nya aku tersadar.
Ternyata selama ini aku sedang berjalan dalam gelap nan gemerlapnya kesesatan.
Aku baru sadar setelah Hidayah-Nya menyinari perjalanan Hijrahku sekarang. 
Bahwa kamarin, aku sedang bersenang-senang bersama dosa yang menyeretku sangat dekat dengan Neraka.
Aku baru saja melangkah. Dengan pijakkan kaki yang membuatku seakan sedang berkata.
"Kemana kan kau bawa aku dalam berjalan? Kenapa sangat jauh dari arah yang seharusnya?"
Namun sayang, gemerlapnya dunya dan bisikkan syaitanpun menutupi kebenaran,
Hingga membuatku tak peduli dengan kata hati yang padahal itu sedang menolongku dari nyala api neraka-Nya.

Aku berada diantara sadar atau dibawah sadar tipu daya dunya.
Namun bukan berarti pula aku beralasan bahwa aku bisa menyalahi dunya karna sejatinya, yang harus kusalahi adalah aku sendiri.
Ya, aku. Kenapa tak mampu membawa diri dengan cara yang Disyari'atkan Allaah?
Kenapa tak menahan diri dari gemerlapnya dunya yang nyatanya hanya sementara?
Dan kenapa? Harus menjadi budaknya syaitan yang berbisik ganas.
Memang, Hidayah-Nya tak semurah yang disebutkan lisan saat berkata "Menunggu hidayah-Nya".
Memang, Hidayah tak datang semudah lisan yang berkata "Semoga hidayah-Nya cepat menyapa".
Iya, karna sejatinya. Hidayah Allaah itu dicari oleh diri kita sendiri.
Iya, Karna Hidayah Allaah haruslah diperjuangkan untuk dimiliki.
Dan jika sudah diraih, ikatlah hidayah itu dengan Ilmu Islami lalu gigilah ikatan itu dengan gigi geraham sekuat-kuatnya.

Karna menjaga Hidayah itu lebih sulit daripada mencarinya.

No comments:

Post a Comment